IGNATIUS LOYOLA: REFORMASI GEREJA KATOLIK

IGNATIUS LOYOLA: REFORMASI GEREJA KATOLIK

 

Di Paris prestasi kerja Ignatius Loyola memuncak. Selain bersekolah ia juga mengembangkan pemikiran yang telah digelutinya selama beberapa tahun, yaitu rancangan program pendidikan spiritualitas. Berbeda dengan pendidikan agama yang berisiajaran religi, pendidikan spiritualitas berisi upaya menghaluskan perasaan religiositas, tak soal apa religinya, bahkan tak soal apa menganut religi atau tidak. Kiprahnya ini membuat Loyola lagi-lagi diperiksa oleh tim inkuisisi.

Loyola menulis pemikirannya itu yang kelak terbit berjudul Latihan Rohani, yang merupakan semacam modul atau program belajar.

Tujuan yang lebih mendasar dari buku Latihan Rohani yang ditulls Loyola selama 15-20 tahun ini adalah agar kita sedikit demi sedikit belajar melepaskan diri dari mental swakasih, swakehendak, dan swakepentingan. Pernah dalam pelajaran Didaktik di STT Jakarta sebuah unit latihan Loyola saya praktikkan dan seluruh kelas termasuk saya harus mengaku betapa banyaknya energi yang terkuras.

Selama belajar di Paris Loyola pun membina kelompok studi, yang terdiri atas sepuluh orang mahasiswa yang penuh kesungguhan. Serikat Sepuluh Teman ini menganalisis kegagalan gereja di Eropa yangcenderung berpihak kepada kaum bangsawan dan raja yang mencekik rakyat dengan harga sewa tanah yang mahal.

Serikat Sepuluh ini juga mencatat bahwa para rohaniwan lebih suka upacara dan kemegahan ibadah ketimbang tekun belajar meningkatkan pengetahuan supaya cakap mengajar umat. Serikat Sepuluh ini menjadi cikal bakal berdirinya Serikat Yesus atau Ordo Yesuit pada tahun 1540. Salah seorang di antara teman Loyola ini adalah Fransiskus Xaverius yang pada tahun 1546 mengabarkan Injil di Ambon, Ternate dan Halmahera (lih. "Siapa Pembawa Injil ke Indonesia?" di Selamat Berpadu).

Loyola dan teman-temannya juga mempelajari tulisan Luther. Mereka setuju dengan Luther bahwa gereja perlu dibarui. Akan tetapi, mereka tidak mau ikut dengan Luther mempersoalkan ajaran gereja dan sistem jabatan gereja. Yang mereka persoalkan adalah keburukan perilaku para pejabat gereja. Memang benar, pada kemudian hari atas desakan Kaisar Karel V yang menghimpun Konsili Trente (1547-1563), semangat ordo ini dimanfaatkan oleh para raja dan pemuka gereja untuk melawan reformasi, namun Loyola sendiri tidak mempunyai kepentingan apa-apa untuk mencurigai dan melawan Luther. Loyola bukan kontra reformasi. la sendiri berkali-kali dicurigai oleh tim inkuisisi, bahkan juga setelah ia ditahbis sebagai imam. Kelompok kontra reformasi yang ditokohi oleh Kaisar Karel V dan putranya Raja Philips Il terdiri atas para raja dan pejabat gereja yang merasa kepentingannya terganggu. Loyola tidak merasa terganggu oleh Luther. Sebaliknya, ia malah merasa terilhami oleh Luther.

Seusai masa studi di Paris, Loyola semakin sibuk lagi. la merasa diri sebagai orang "yang menantikan tuannya yang pulang dari perkawinan,supaya jika ia datang dan mengetuk pintu, segera dibuka pintubaginya" (Luk. 12:36). la teringat pesan Kristus, "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala" (ay. 35). la ingin "didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang" (ay. 37). Ia ingin "siap sedia, karena Anak manusia datang pada saat yangtidak kamu sangkakan" (ay. 40). la ingin "didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya datang" (ay. 43).

Gaya hidup Loyola adalah selalu siaga dan bekerja supaya saat Kristus datang semua pekerjaan sudah dikerjakan. la ingin membuat Kerajaan Allah menjadi nyata. Semua ini dilakukan sesuai dengan moto ordonya: "Demi Semakin Meningkatnya Kemuliaan Allah".

Ignatius Loyola memang merindukan Kristus. Dulu ia rindu untuk mencium tangan Putri Katalina, mendapat saputangannya, dan berkata, "Daulat, Tuanku Putri." Sekarang Loyola mengajak kita rindu ingin mencium tangan Kristus, menerima saputangan-Nya, dan berdoa:       

Kristus, Jiwa-Mu, sucikan aku Tubuh-Mu, selamatkan aku Darah-Mu, lepaskan dahagaku Air lambung-Mu, bersihkan aku Derita-Mu, kuatkan aku. Dalam luka-Mu, sembunyikan aku. Jangan biarkan aku terpisah dari-Mu. Dari segala yang jahat, belalah aku. Pada saat kematian, panggillah aku. Undanglah aku mendekati-Mu. Agar bersama-sama orang kudus. Aku memuja-Mu. Sepanjang masa. Amin.