PEREMPUAN DAN LELAKI SEBAGAI MITRA

PEREMPUAN DAN LELAKI SEBAGAI MITRA

 

Dulu tidak ada perempuan atau lelaki. Yang ada hanya satu jenis manusia, yaitu androgynus. Manusia tersebut segalanya serba ganda. Kepalanya dua, satu menghadap ke depan, yang lain ke belakang. Tangannya empat. Kakinya juga empat. Pokoknya segalanya ganda. Karena itu, kecakapannya juga ganda. Akibatnya para dewa khawatir kalau-kalau manusia akan mengalahkan dewa. Sebab itu, Dewa Zeus membelah manusia menjadi dua, satu menjadi perempuan dan satu menjadi lelaki. Hubungan antara makhluk perempuan dan makhluk lelaki ini ternyata penuh kontroversi. Kalau berjauhan mereka saling merindukan. Namun, kalau sudah bertemu mereka bertengkar. Nanti rindu lagi, lalu bertengkar lagi. Dan seterusnya. Demikian cerita Plato (428-348 SM).

Dongeng itu menggambarkan kompleksitas kemitraan antara pria dan wanita. Keduanya saling membutuhkan. Namun, kemitraan atau kerja sama mereka banyak persoalannya. Menurut Alkitab, penciptaan lelaki dan perempuan juga berkaitan dengan kemitraan. Dalam Kejadian 2:18 tertulis, "TUHAN Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Banyak orang mengira bahwa ayat ini berbicara mengenai pernikahan. Memang, itu tidak keliru. Akan tetapi, menurut ayat ini tujuan Tuhan menciptakan penolong bagi Adam bukan hanya supaya mereka menikah, melainkan supaya mereka bekerja sama.

Tuhan prihatin bahwa Adam tidak bermitra. Maka Tuhan bertekad "Aku akan menjadikan penolong baginya." Dalam ayat berikutnya Tuhan langsung menciptakan makhluk lain untuk menjadi penolong Adam. Siapakah makhluk lain itu? Apakah perempuan? Bukan! Silahkan baca ayat itu. "Lalu TUHAN Allah membentuk... segala binatang ..." (ay. 19).

Tuhan menciptakan mitra bagi Adam. Mitra itu adalah hewan. Memang benar hewan bisa menjadi mitra yang banyak berguna. Namun, betapa pun besar gunanya, hewan tidak sepadan dengan manusia. Dalam ayat 20 tertulis, "Manusia itu memberi nama kepada segala ternak... tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia." Sebab itu, dalam ayat-ayat berikutnya Tuhan menciptakan makhluk yang sepadan. Maka terciptalah perempuan.

Cerita penciptaan perempuan ini banyak seginya yang menarik. Perempuan disebut penolong. Yang menyebutnya penolong bukan Adam, melainkan Tuhan sendiri. "Aku akan menjadikan baginya" (ay. 18). Istilah penolong tidak enak kedengarannya. Dalam Alkitab bahasa aslinya lebih tidak enak lagi, yaitu ezer, artinya 'pembantu' atau 'bantuan'. Mengapa wanita penolong atau pembantu? Istilah ini berkesan merendahkan derajat wanita. Namun, sebetulnya tidak. Istilah ini justru meninggikan derajat wanita. Sebab dalam Mazmur 121:1, 2 Tuhan disebut ezer. Tuhan adalah ezer Israel, artinya pertolongan atau bantuan untuk Israel. Jadi, istilah penolong dalam cerita ini justru mengagungkan kedudukan perempuan. Siapakah yang lebih kuat kedudukannya, pihak yang ditolong ataukah pihak yang menolong?

Penolong ini bersifat sepadan. Ada yang mengartikan ini sebagai jodoh. Bukan itu maksud ayat ini. Dalam bahasa aslinya, neged berarti imbangan, tandingan, pantaran, yang bisa dihadapi dan bisa berhadapan. Maksudnya perempuan adalah mitra yang sepantar, tidak lebih rendah, tetapi juga tidak lebih tinggi. Kapan terciptanya perempuan? Menurut Kejadian 2, binatang jantan dan betina diciptakan sama-sama. Ada sapi jantan, ada sapi betina. Ada ayam jago, ada ayam petelur. Tetapi lelaki dan perempuan diciptakan secara terpisah, seakan-akan pengarang mau berkata: lelaki bukan jantan atau jago, perempuan bukan betina atau petelur. Adanya perbedaan kelamin bukan berarti harus adanya hubungan kelamin.

Bagaimana terciptanya perempuan? Ketika menciptakan Hawa, Tuhan sengaja membuat Adam tidur, bahkan tidur nyenyak. "Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak" (ay. 21a). Mengapa begitu? Mungkin supaya Adam jangan ikut melihat dan membantu. Sebab, kalau Adam ikut membantu, bisa jadi ia merasa diri punya saham dan merasa memiliki perempuan. Tidak! Adam tidak ikut membuat. Harap Anda simak. Ceritanya sangat sederhana, tetapi pesannya sangat hakiki: perempuan bukan bikinan lelaki sebab itu perempuan bukan milik lelaki dan bukan pula mainan lelaki.

Bagaimana cara Tuhan membuat perempuan? Menurut ayat 21b, Tuhan membuatnya dari tulang rusuk lelaki. Perempuan diambil dari tulang sisi. Bukan dari tulang kepala supaya jangan menjadi penguasa. Bukan dari tulang kaki supaya jangan diinjak-injak. Simaklah kedalaman cerita ini. Ceritanya kuno, tetapi pesannya progresif: perempuan bukan atasan, tetapi bukan pula bawahan, melainkan mitra yang sejajar.

Kapan Adam melihat Hawa untuk pertama kali? Ketika Adam bangun tidur. Bayangkan bagaimana kagetnya Adam. Begitu melek tiba-tiba ada perempuan yang tidak dikenal lagi duduk di pinggir ranjang, rambutnya panjang terurai sampai ke pinggang. Akan tetapi, perempuan itu tersenyum manis. Sungguh menawan. Sebab itu Adam langsung kegirangan, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan sebab ia diambil dari laki laki" (2:23). Dalam bahasa aslinya, ucapan Adam itu merupakan permainan kata: la akan dinamai isysya, sebab ia diambil dari isy. Isy berarti 'lelaki', isysya berarti 'lelaki-wati'.

Maka jadilah Adam dan Hawa mitra yang bekerja sama mengurus Taman Eden. Keduanya diberi otonomi penuh. Semua pohon boleh dipetik buahnya. Hanya ada satu pohon yang dilarang. Apa maksud Tuhan menetapkan satu pohon terlarang? Untuk menjadi batas. Segala sesuatu perlu ada batasnya. Sebab, manusia sering tidak tahu batas. Sudah cukup mau banyak. Sudah banyak, mau lebih banyak lagi. Maka Tuhan menetapkan batas.

Akan tetapi, dasar serakah, batas itu dilanggar. Maka, Tuhan meminta pertanggungjawaban. Perhatikan bagaimana Adam dan Hawa mengatur tanggung jawab. Seharusnya mitra memikul tanggung jawab secara bersama. Akan tetapi, apa yang terjadi? Ternyata kedua mitra itu saling lempar tanggung jawab. Adam membela diri, "Bukan saya, tetapi perempuan itu." Lalu Hawa juga cepat-cepat bela diri. "Bukan saya, tetapi ular itu."

Menjadi mitra memang tidak gampang. Untuk itu diperlukan kematangan dalam beberapa aspek kepribadian. Salah satu di antaranya adalah bisa saling menghargai, artinya mengakui dan mengagumi keunggulan pihak lain. Rupanya ini salah satu kendala pada kemitraan lelaki dan perempuan. Lelaki cenderung menganggap perempuan lebih bodoh. Banyak suami menyebut istrinya bodoh. Konon pada suatu hari Adam bertanya kepada Tuhan, "Tuhan, kenapa sih perempuan yang kauciptakan itu begitu cantik?" Tuhan menjawab, "Supaya kamu mau kawin dengan dia." Lalu Adam bertanya lagi, "Tapi Tuhan, kenapa dia begitu bodoh?" Tuhan menjawab, "Supaya dia mau kawin dengan kamu!"

Cerita penciptaan dilanjutkan pada pasal 3. Adam dan Hawa meninggalkan Taman Eden. Banyak orang membaca pasal ini dengan kacamata negatif. Yang dilihat hanya hukuman. Coba kita simak. Tuhan bersabda kepada Adam, "... dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah" (Kej. 3:17). Sebetulnya, ini bukan hanya hukuman, melainkan juga berkat sebab di sini Tuhan menjanjikan rezeki. Kepada Hawa Tuhan bersabda, ... dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu..." (3:16). Ini juga bukan hukuman, melainkan berkat berupa kemungkinan untuk mempunyai anak.

Kedua ucapan Tuhan itu telah menjadi tradisi pola pembagian kerja antara lelaki dan perempuan. Lelaki berburu dan berladang. Perempuan bertugas di rumah. Pada zaman itu hampir semua pekerjaan di luar rumah mengandalkan kekuatan fisik. Akibatnya, hanya lelaki yang bekerja di luar rumah. Akan tetapi, kini keadaan sudah berubah. Banyak jenis pekerjaan tidak lagi mengandalkan kekuatan fisik, melainkan kekuatan pikiran. Dalam abad elektronik, yang perlu bukan otot, melainkan otak. Tolok ukurnya bukan lagi kemampuan fisik, melainkan kemampuan intelek. Dalam hal fisik mungkin perempuan kalah, tetapi dalam hal intelek belum tentu.

Cerita bergulir terus. Adam dan Hawa berjalan meninggalkan Taman Eden. Mereka memerlukan pakaian. Mereka tidak bisa bertelanjang terus. Siapakah yang membuat pakaian? Lelaki atau perempuan? Jawabnya ada di ayat 21. "Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu." Tuhan menjadi penjahit pertama. Lalu apa yang diperbuat Tuhan dengan pakaian itu? Menurut ayat itu, Tuhan "mengenakannya kepada mereka". Seperti seorang ibu menolong anaknya berpakaian.

Begitulah lelaki dan perempuan melanjutkan kehidupan sebagai mitra. Ada kemitraan sebagai suami-istri dalam keluarga. Ada pula kemitraan sebagai rekan di sekolah, di kantor, di pabrik, di gereja dan lainnya. Lapangan kerja sama pria dan wanita memang tidak sesempit keluarga. Lelaki dan perempuan bisa bekerja sama tanpa perlu punya perasaan erotis. Seorang astronot lelaki dan astronot perempuan bisa berada selama beberapa minggu dalam kapsul di ruang angkasa tanpa perasaan erotis. Dalam psikologi ini disebut companionate love. Cirinya adalah kedekatan antara lelaki dan perempuan yang bukan bersifat passionate atau berahi, melainkan companionate atau bersahabat karena kagum pada kepribadian atau kepandaian rekannya itu.

Apa pun konteks kemitraannya, lelaki dan perempuan biasanya saling melengkapi. Yang satu lebih berani, yang lain lebih hati-hati. Yang satu lebih cepat, yang lain lebih cermat. Akan tetapi, menjadi mitra tidaklah mudah. Di sini ada dua watak yang berbeda, dua naluri yang berbeda dan dua tabiat yang berbeda. Konon, Adam kembali lagi kepada Tuhan. Ia berkata, "Tuhan istri saya sekarang sudah tidak bodoh lagi. Tetapi, bawelnya nggak ketulungan. Kuping ini sampai pengang. Maka saya mau kembalikan saja perempuan yang Tuhan ciptakan ini." Tuhan menjawab, "Ya, kembalikanlah." Tetapi baru seminggu, Adam datang lagi. la berkata, "Tuhan, saya kesepian. Minta lagi, deh, istri saya itu." Tuhan langsung menegur, "Apa-apaan ini? Seperti anak kecil! Sebentar dikembalikan, sebentar diminta lagi! Ini, saya berikan lagi istrimu. Tetapi syaratnya, kamu harus bisa kerja sama dengan perempuan. Kalau pengang, tutup kuping saja!"

Syahdan, sejak hari itu sampai hari ini. Adam masih terus bekerja sama dengan Hawa. Kerja sama itu tidak selalu mulus. Ada rindunya, ada bertengkarnya. Ada hangat-hangatnya, ada adem-ademnya. Ada rayu-rayunya, ada bentak-bentaknya. Begitulah kalau dua makhluk berbeda menjadi mitra kerja sama.