MARI KERJA SAMBIL KETAWA

MARI KERJA SAMBIL KETAWA

Di Jakarta ada jalan yang bersih, tenang dan rindang untuk pejalan kaki. Namun, ada juga yang berdebu, hiruk pikuk dan pengap. Jalan Taman Sari bisa digolongkan pada yang kedua. Ketika masih bujangan, hampir tiap hari saya melewati jalan itu. Sebabnya, pacar saya tinggal di dekat situ. Karena itu, kami sering berjalan atau bersepeda melewati Jalan Taman Sari menyusuri kali yang penuh sampah. Namun, debu dan bau sampah itu sama sekali tidak terasa mengganggu. Yang saya rasakan hanyalah perasaan senang, apalagi pada saat-saat kami bersentuhan dan berpegangan. Sekarang saya akan pikir-pikir dulu kalau disuruh berjalan atau bersepeda di jalan yang penuh debu itu.

Mungkin Anda juga pernah mengalami hal seperti itu. Misalnya, menempuh perjalanan panjang yang melelahkan dan membosankan. Tetapi ketika Anda melakukan itu dalam suasana yang menyenangkan, kelelahan dan kebosanan itu tidak terasa. Atau, Anda melakukan suatu pekerjaan. Ketika dilakukan dengan perasaan jengkel, maka pekerjaan terasa berat. Namun, pekerjaan yang sama itu terasa ringan ketika dilakukan dengan hati yang senang. Nah, di sini letak rahasianya: perasaan senang. Pekerjaan yang berat sekalipun terasa ringan jika kita merasa senang melakukannya. Sebaliknya, pekerjaan yang ringan akan terasa berat jika kita merasa enggan dan jengkel.

Sebab itu, faktor yang banyak menentukan keberhasilan kerja adalah kegembiraan. Tanpa kegembiraan kerja, maka pekerjaan apa pun akan terasa bagaikan tekanan atau hukuman. Kalau kita berangkat atau memulai suatu pekerjaan dengan perasaan enggan dan jengkel, pekerjaan itu terasa menekan dan membosankan. Kita melakukannya dengan perasaan terpaksa. Dalam keadaan seperti itu kita cenderung untuk membuat kesalahan-kesalahan. Orang yang mengemudi mobil sambil marah-marah lebih gampang menabrak dari pada orang yang mengemudi sambil bersenandung.

Kegembiraan kerja juga turut memengaruhi pembentukan motivasi konsentrasi, kreativitas dan produktivitas kerja. Orang yang bekerja dalam suasana tegang dan terpaksa biasanya akan rendah motivasinya. Konsentrasinya mudah buyar. Kreativitasnya tidak muncul. Mutu hasil kerjanya buruk. Produknya juga sedikit. Untuk bekerja, diperlukan kegembiraan kerja. Kegembiraan itu akan menimbulkan semangat. Bagaimana kita mau hidup dan bekerja kalau kita tidak mempunyai semangat. Seperti kata pengarang Amsal, "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat" (15:13). Ia juga menulis, "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang" (17:22).

Pengarang Kitab Pengkhotbah bahkan menyatakan bahwa ke gembiraan kerja adalah hal yang paling diperlukan. Ia menulis, "Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya" (2:24a). Artinya, orang yang bahagia adalah orang yang bisa bergembira dengan pekerjaannya dan dengan rezeki hasil pekerjaannya. Sepiring nasi dengan ikan asin terasa lebih sedap jika kita mensyukurinya sebagai rezeki hasil jerih payah dengan rasa senang dari pada rupa-rupa makanan mahal yang sebenarnya bukan hasil kejujuran kerja atau yang kita makan dengan perasaan jengkel. Perhatikan bahwa ayat itu masih ada lanjutannya, "Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?" (Pkh. 2:24b dan 25). Pengkhotbah mengaku bahwa kesempatan kerja dan rezeki hasil kerja datang dari Tuhan, sebab itu ia mensyukurinya.

Bisa mensyukuri hasil pekerjaan adalah pangkal kegembiraan kerja. Itu hanya bisa terjadi kalau kita mempunyai sikap terbuka untuk menyenangi dan mensyukuri. Di dunia hanya ada satu orang yang dapat memberikan kegembiraan kerja kepada kita. Orang itu adalah kita sendiri. Pekerjaan adalah neraka kalau kita bekerja sambil cemberut, tetapi pekerjaan adalah surga kalau kita bisa menyukai pekerjaan itu. Baik buruknya suasana kerja tergantung dari sikap kita sendiri.

Sebab itu, kita bekerja dengan senyum. Tersenyum geli melihat kesalahan, tersenyum bangga melihat keberhasilan. Bekerja dengan ketawa. Tertawa melihat celah-celah yang jenaka dalam dunia kerja. Tertawa dan menertawakan diri sendiri atas kebodohan yang kita perbuat. Misalnya, menertawakan diri sendiri ketika kita terkecoh menghadapi pertanyaan yang sebetulnya sederhana sekali.

Konon petani Meksiko terkenal pandai menciptakan suasana kerja yang riang. Sepanjang hari mereka bekerja sambil bernyanyi. Lalu sore hari ketika semua pekerjaan selesai, mereka naik kuda pakai sombrero (topi pandan yang lebar) sambil membawa gitar mengelilingi ladang untuk memandangi hasil kerja mereka. Sekarang saya bertanya kepada Anda, "Mengapa para petani Meksiko itu naik kuda dengan membawa gitar?" Silakan Anda jawab. Supaya jelas, saya ulangi pertanyaannya, "Kenapa mereka membawa gitar?" Mau tahu jawabnya? Ini dia: Tentu saja gitar. Emangnya orang naik kuda mau disuruh bawa piano atau organ? Yang bener aja.

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)


TIDAK ADA KERJA YANG HINA

TIDAK ADA KERJA YANG HINA


Anda mungkin tidak percaya, saya pernah jadi baby-sitter. Baby sitter beneran selama empat tahun. Ketika itu saya sekolah Virginia. Seminggu sekali saya baby-sitting, yaitu menjaga anak dengan upah dua dolar sejam. Ceritanya begini.

Di Amerika hampir tidak ada keluarga yang mempunyai pembantu rumah tangga atau pengasuh anak. Sebab itu, orangtua mencari seorang untuk menjaga anak atau menitipkan anaknya di rumah kenalan selama beberapa jam. Sudah lazim bahwa tugas baby-sitting itu dibayar sekian dolar per jam. Beberapa bulan setelah tiba di Virginia, istri saya mulai mendapat tawaran untuk menjaga anak. Walaupun istri saya sibuk bersekolah penuh waktu di program magister, tawaran itu diterima secara langsung karena kuatnya iming-iming dolar. Lalu kedua anak kami yang adalah murid high-school juga mulai mendapat klien.

Tidak lama kemudian, rupanya "perusahaan" kami mulai tersohor. Telepon berdering terus dengan order. Begitulah setiap Sabtu maka kami sibuk. Istri saya baby-sitting di rumah A. Putri kami di rumah B. Putra kami di rumah C. Saya baby-sitting di rumah kami sendiri. Mula-mula tentu saja saya canggung. Seumur-umur saya belum pernah jaga bayi, apalagi bayi orang bule. Bayi itu pun tampak curiga. Matanya terus memelototi saya seperti melihat makhluk aneh dari planet lain. Tetapi, tak lama kemudian kami mulai akrab. Dia senang, saya juga senang.

Nah, langganan saya itu namanya Carter. Umurnya satu setengah tahun, masih belajar jalan. Badannya bongsor. Potongannya macam pemain sumo. Beratnya minta ampun. Rambutnya pirang, halus dan wangi. Masih belajar bicara. Logatnya medok. Dia menyebut nama saya dengan aksen yang khas, "Eendaaar!" Sorotan matanya hidup. Lincah. Cepat mengerti. Gampang ketawa. Pokoknya lucu banget.

Tugas saya cukup mudah. Pukul 6 Carter dibawa orangtuanya ke rumah kami. Langsung Carter bermain dengan saya. Main lompat-lompatan. Main petak umpat. Main jadi cowboy dan bandit. Main adu gulat di karpet. Pukul 7 makan. Carter makan bubur apel, saya nasi. Sekali waktu ia mencoba nasi, ternyata ia jadi ketagihan. Begitulah tiap kali selesai mengucapkan kata amen langsung ia menelan air liur dan berteriak, "Just rice!" Sesudah makan bercerita dan bernyanyi. Pukul 8 tidur. Makin cepat dia tidur, makin baik; sebab saya punya banyak pekerjaan: belajar, menulis paper, menyiapkan diri untuk ulangan, atau membuat khotbah. Pukul 11 orangtuanya datang dan menggotong Carter yang sedang nyenyak ke mobil. Itu dia tugas baby-sitting: bermain dan tertawa-tawa karena kelucuan anak. Tidak dibayar pun saya mau, apalagi dibayar.

Akan tetapi, jengkelnya kadang juga ada. Kadang-kadang Carter rewel. Terutama menjelang tidur. Matanya sudah dipejamkan. Tetapi sebentar-bentar dia melek dan merengek, "Gimmee another kiss." Padahal tadi sudah mendapat dan memberi good-night kiss. Atau dia lari lagi mengambil sebuah mainan. Lalu lari lagi mengambil mainan lain. Kadang-kadang saya sabar, tetapi kalau saya sedang sibuk saya jadi marah. Lalu dia menangis. Pernah dia meraung-meraung. Pernah juga dia terisak-isak sambil memeluk bantal dan berkata lirih, "I want my mom." Nah, kalau sudah begitu, malah saya yang jadi sedih. Bayangkan perasaan saya ketika kami pulang ke Indonesia. Setelah empat tahun begitu akrab, tiba-tiba putus hubungan. Saya merasa kehilangan. Carter sudah menjadi seperti anak atau cucu sendiri. Itu suka duka jadi baby-sitter.

Sekarang cerita lain. Mungkin Anda juga tidak percaya. Saya pernah menjadi tukang pel restoran di Inggris. Waktu itu saya dan istri bersekolah di Belanda. Selama dua bulan liburan kami bekerja di Hotel Butlin di Minehead, sejauh sehari perjalanan kereta api dari London. Hotel itu menampung puluhan ribu tamu. Gedungnya ada puluhan. Karyawannya ribuan, kebanyakan mahasiswa dari pelbagai negara Eropa. Istri saya bertugas di regu pencuci alat-alat dapur, saya di regu tukang pel lantai restoran. Sekitar seribu orang bisa duduk situ. Restoran itu sangat luas. Sesudah bagian depan dipel, saya pindah ke bagian tengah. Lalu ketika bagian tengah sudah bersih dipel bagian depan yang tadi sudah jadi kotor lagi. Begitu seterusnya. Jadi saya mengepel terus dari pagi sampai sore. Tangan pegel sampa ngaplek. Tetapi, enaknya juga banyak. Semua fasilitas tersedia gratis bagi karyawan. Pada jam libur kami jadi turis gratis: berenang, nonton teater, jalan-jalan di pantai, atau mendaki bukit.

Ada lagi pengalaman kerja yang lain. Ketika di sekolah dasar saya bekerja sebagai pengantar koran. Pada waktu libur di sekolah menengah saya menjadi pramuniaga di Toko Lima Bandung. Ketika belajar di sekolah teologi di Malang, saya bekerja sebagai penerjemah buku. Itu beberapa pekerjaan "yang resmi". Yang tidak resmi masih ada lagi.

Pendek kata, kalau soal pekerjaan saya sudah kenyang. Dari kecil saya sudah bekerja dan mencari upah. Dari SD sampai S-3 saya sekolah sambil bekerja. Bekerja telah menjadi bagian dari hidup saya. Alkitab memang menggambarkan kerja sebagai bagian dari ritme hidup. Menurut pemazmur, sebagaimana matahari terbit dan hewan mencari makan, demikianlah manusia juga bekerja, "Apabila matahari... manusia pun keluarlah ke pekerjaannya, dan ke usahanya sampai petang" (lihat Mzm. 104:19-23). Kita tidak usah disuruh bekerja, sudah dengan sendirinya kita bekerja, Kalimat "enam hari lamanya engkau akan bekerja" (Kel. 20:9) bukan merupakan kalimat imperatif (bersifat perintah) melainkan indikatif (bersifat pemberitahuan).

Alkitab memandang kerja sebagai bagian dari kehidupan yang dimaksudkan Allah untuk manusia. Menurut Kitab Kejadian, Allah menciptakan manusia dengan tujuan "untuk mengusahakan dan memelihara taman itu" (Kej. 2:15). Alkitab tidak pernah menggolongkan jenis pekerjaan, sejauh itu mendatangkan faedah bagi kehidupan bersama, adalah mulia. Tanpa merasa malu, Alkitab mencatat bahwa Raja Saul semula adalah petani yang membajak dengan lembu (1Sam. 11:5) atau bahwa Raja Daud semula adalah penjaga ternak (1 Sam. 17:15). Jenis pekerjaan yang kasar dan mengotorkan badan pun adalah rancangan Tuhan. Sirakh 7:15 menulis, "Jangan benci kepada pekerjaan yang melelahkan atau kepada kerja di perladangan, yang ditentukan Yang Mahatinggi" (Kitab Sirakh terdapat di Perjanjian Lama Deuterokanonika yang seluruhnya terdiri atas 49 kitab). Pakar Alkitab Alan Richardson dalam buku The Biblical Doctrine of Work menyimpulkan, "The basic assumption of the biblical viewpoint is that work is a divine ordinance for the life of man... a part of the divinely ordered structure of the world and of human nature."

Bagi saya, bekerja juga merupakan bagian dari proses bertumbuh dan menjadi. Saya ada seperti saya sekarang ada karena pelbagai jenis pekerjaan yang saya alami. Semua itu turut membentuk diri dan karier saya. Pekerjaan telah melatih saya untuk mengatur waktu. Pekerjaan telah mengajar saya memikul tanggung jawab dan disiplin.

Begitulah dalam hidup ini saya sudah menempuh perjalanan karier yang panjang, mulai dari penjual kue di Cibatu sampai dekan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, mulai dari pengantar koran di Bandung sampai dosen tamu di Universitas Doshisha di Jepang.

Mungkin Anda bertanya, dari semua pekerjaan itu manakah yang paling saya sukai. Jawabnya: jadi baby-sitter Carter. Saya merasa begitu dekat dengan Carter. Empat tahun lamanya Carter telah menjadi bagian dari hidup saya. Saya telah turut mendidik dan mewarnai kepribadiannya selama empat tahun. Saya telah turut membantu dia bertumbuh dari bayi yang belajar jalan sampai jadi murid TK. Saya harap dia bertumbuh terus. Siapa tahu nanti dia jadi presiden Amerika. Siapa tahu...

DICARI YANG BERPENGALAMAN

DICARI YANG BERPENGALAMAN

 


Ada seorang nabi yang mempunyai mantra untuk menghidupkan tulang orang mati. Murid-muridnya berkali-kali meminta agar nabi itu memberikan mantra tersebut kepada mereka. Tetapi nabi selalu menjawab, "Sabarlah. Kamu perlu pengalaman lebih dulu. Kamu perlu belajar bijak dari pengalaman. Tunggulah sampai kamu menjadi lebih matang. Nanti saya pasti akan memberikan mantra itu.”

Akan tetapi, murid-muridnya tetap mendesak. Mereka terus mendesak. Akhirnya dengan berat hati nabi itu memberikan mantra yang mereka minta itu. Para murid itu gembira. Mereka langsung meninggalkan sang guru. Mereka ingin mencoba mantra itu. Di perjalanan mereka melihat ada beberapa batang tulang berserakan. "Mari kita coba sekarang!" Lalu mereka menggunakan mantra itu. Apa yang terjadi? Tulang-tulang itu mulai bergerak. Mantera itu ampuh! Dengan mata terbelalak mereka melihat tulang-tulang itu mulai ditumbuhi daging. Lalu menjadi kerangka. Ternyata kerangka itu menjadi serigala yang hidup dengan mata yang liar. Murid-murid itu lari ketakutan. Namun, mereka dikejar serigala itu. Mereka diterkam. Mereka tewas terkoyak-koyak.

Kepandaian dan kekuasaan bukan segala-galanya. Orang yang pandai dan berkuasa belum tentu bijak dalam menggunakan kepandaian dan kekuasaannya. Mereka belum berpengalaman. Namun, apa artinya pengalaman? Pdt. A sudah sepuluh tahun bekerja, sedangkan Pdt. B lima tahun. Siapa yang lebih berpengalaman? Apa Pdt. A? Belum tentu. Kedua pendeta itu tiap tahun mengajar katekese. Pdt. A sudah sepuluh kali mengajar, tetapi bahan yang digunakan selalu sama, begitu juga cakupan, urutan dan caranya. Pdt. B sudah menggunakan lima macam pendekatan yang berbeda. la lalu membandingkan dan menilai kelima macam kelas yang berbeda itu. Nah, siapa yang lebih berpengalaman? Jelas, Pdt. B lebih berpengalaman walaupun masa kerjanya lebih singkat. Pengalaman belum tentu identik dengan panjangnya masa kerja.

Pengalaman lebih dari sekadar mengalami sesuatu. Apa yang kita lihat, dengar, atau kerjakan belum tentu menjadi pengalaman. Apa yang kita kerjakan baru menjadi pengalaman kalau kelak kita bisa memanfaatkan kesalahan dan keberhasilannya untuk pekerjaan kita yang selanjutnya. Kualitas sebuah pengalaman diukur dari kemampuan kita untuk menarik pelajaran dari pengalaman itu. Pakar pendidikan John Dewey (1859-1952) dalam buku Experience and Education menulis, "Everything depends upon the quality of the experience which is had. The quality of any experience... is its influence upon later experiences... wholly independent of desire or intent, every experience lives on in further experiences."

Dalam pengertian itu kita berkata bahwa cara belajar yang terbaik adalah belajar dari pengalaman. Bukan pengalaman dalam arti sekadar mengalami, melainkan bertanya apa yang aku pelajari dari apa yang kualami, apa kelemahanku, apa kekuatanku, apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu diubah, apa manfaat yang diperoleh orang banyak dari semua ini?

Pengalaman baru bisa disebut pengalaman kalau apa yang dialami itu diuji secara kritis. Untuk itu, dibutuhkan sikap jujur terhadap diri sendiri dan mau mengakui kebodohan sendiri. Orang yang cepat berpuas diri biasanya miskin pengalaman, walaupun apa yang dialaminya banyak. Kualitas pengalaman diukur dari intensitas. Hidup Yesus di bumi hanya 33 tahun, tetapi hidup-Nya begitu intens (= dalam, hebat, padat, berarah), karena la mempunyai intensi (= tujuan, maksud) yang jelas, yaitu "untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mrk. 10:45).

Hidup yang bermutu menghasilkan pengalaman. Pengalaman menghasilkan sikap bijak. Pengalaman menjadikan orang berhati-hati dan mempertimbangkan segala sesuatu secara tenang dan matang. la melihat persoalan bukan hanya dari satu perspektif atau darii kepentingan sendiri, melainkan juga dari pelbagai perspektif atau dari kepentingan orang banyak. Ia tidak begitu saja maju dan menerjang. Jika perlu, ia bersedia berhenti dan menepi. Seperti ditulis oleh pengarang Amsal, "Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka" (22:3).

Perhatikan bahwa ayat itu mempertentangkan antara "bijak" dan "tak berpengalaman". Pola itu terdapat di sepanjang Kitab Amsal (contoh eksplisit lain ada di dalam 14:15). Menurut Amsal, orang yang mau bijak perlu belajar dari pengalaman. Pandai dan berkuasa belum berarti bijak dan berpengalaman. Murid-murid nabi tadi sudah pandai dan berkuasa karena mereka mempunyai mantera yang mampu menghidupkan tulang. Namun, mereka terburu nafsu untuk menggunakan kepandaian dan kekuasaan. Tulang yang mereka hidupkan ternyata tulang serigala. Mereka menghidupkan sesuatu yang kemudian mematikan mereka. Mereka sudah mempunyai kepandaian dan kekuasaan. Namun, mereka belum mempunyai sifat bijak dan pengalaman.

MENERUSKAN HARAPAN KERJA YESUS

MENERUSKAN HARAPAN KERJA YESUS

 


Orang itu mencangkul. Sebutir biji jagung dimasukkannya ke dalam tanah. Apa yang sedang diperbuatnya? la sedang menanam "sebutir pengharapan". Dalam benaknya ada pengharapan bahwa biji itu kelak bertumbuh dan menghasilkan jagung. la mencangkul dengan suatu motivasi besar: pengharapan. Akan tetapi, pengharapan bukan perkara sembarangan. Pertama, pengharapan harus mempunyai dasar. Dan sebuah dasar selalu berasal dari masa lampau: biji semacam itu ternyata bisa tumbuh dan menghasilkan jagung. Tanpa suatu dasar, pengharapan mudah berubah menjadi untung-untungan. Kedua, pengharapan harus disertai usaha nyata. Tanahnya digemburkan. Dipupuki. Diamankan dari gangguan binatang. Disiram. Dipelihara. Ketekunan. Kerja keras. Tanpa usaha nyata, pengharapan merosot menjadi lamunan.

Ketiga, pengharapan harus berpijak atas kewajaran. Kewajaran waktu: tak mungkin jagung itu sudah panen dalam satu bulan. Kewajaran hasil: tak mungkin satu tanaman jagung bisa memberi hasil sebanyak satu gerobak. Tanpa kewajaran, pengharapan cuma melahirkan kekecewaan. Kalau itu yang dituntut dari pengharapan akan sebutir jagung, apalagi pengharapan tentang manusia dan masa depan. Apakah pengharapan Kristen tentang manusia dan masa depan? Apa yang kita harapkan? Yang kita harapkan adalah datangnya Kerajaan Allah ke bumi ini. Apa yang dimaksud? Kerajaan Allah adalah keadaan di mana kedaulatan dan pemerintahan Allah ditaati oleh manusia. Jadi, yang kita harapkan adalah suatu keadaan baru di bumi di mana hubungan manusia dengan Allah dan dengan sesamanya menjadi hubungan damai yang sempurna (lih. Why. 21:1-4).

Apa yang menjadi dasar dari pengharapan itu? Dasarnya adalah kenyataan bahwa Kerajaan Allah sudah dimulai di dalam pekerjaan Yesus. la berkata, "Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu" (Mat. 12:28). Selama tiga tahun Yesus "menyampaikan kabar baik kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitakan datangnya tahun rahmat Allah" (Luk. 4:16-22).

Dengan pekerjaan Yesus itu, dimulailah suatu zaman baru di mana manusia melihat kehadiran Allah sebagai raja. Jadi pengharapan kita tentang Kerajaan Allah bukan timbul karena kita mencita-citakan sesuatu yang belum ada. Sebaliknya, pengharapan kita berdasarkan apa yang sudah ada, yakni zaman baru hasil pekerjaan Yesus. Pengharapan Kristen adalah merindukan perwujudan dari zaman baru yang telah dimulai oleh Yesus. Zaman itu berlangsung hingga ke masa kini dan akan berlangsung ke masa depan, di mana pengharapan itu akan menjadi kenyataan yang sempurna.

Akan tetapi, adakah dasar bagi kita untuk mengharapkan bahwa di masa depan Kerajaan Allah akan diwujudkan secara sempurna? Ya, karena di masa lampau sudah diperlihatkan bahwa Allah memimpin sejarah seperti menarik suatu garis ke depan. Hal itu disaksikan dalam Kisah Keluaran Umat Israel. Di situ Allah bukan digambarkan sebagai Allah yang bersemayam di suatu tempat yang tinggi, melainkan sebagai Allah yang berjalan bersama-sama dengan umat itu. Ia menuntun perjalanan umat itu dengan sebuah tiang awan. Bahkan la hadir dalam bentuk tiang awan (lihat Kel. 13:21-22).

Dengan begitu, la menjadi Allah yang berada di depan manusia la menjadi Allah yang menarik manusia untuk berjalan terus ke masa depan. la menjadi Allah yang turun tangan dalam urusan-urusan persediaan pangan (urusan ekonomi), perundangan-undangan dan perbudakan (urusan sosial), kebaktian dan hari-hari raya (urusan agama), perang dan pengangkatan pemimpin (urusan politik). Dengan turun tangannya Allah dalam urusan-urusan itu, la menunjukkan diri-Nya sebagai Allah atas segala bidang hidup manusia pada masa itu dan sebagai Allah yang mempersiapkan manusia untuk menghadapi masa depan. Dalam Kisah Keluaran itu, Allah mengajar umat-Nya untuk mempunyai pengharapan atas masa depan. Akan tetapi, pengharapan harus disertai usaha. Dalam kisah Keluaran hal itu pun tampak jelas. Umat itu harus berjalan melintasi gurun selama empat puluh tahun dengan bersusah payah.

Tiap pengharapan menuntut usaha. Demikian pula pengharapan kita akan datangnya Kerajaan Allah. Akan tetapi, justru itulah yang tidak mudah. Setiap hari Minggu kita berseru, "Datanglah Kerajaan-Mu." Namun, apakah usaha kita untuk menampakkan tanda-tanda situasi Kerajaan Allah di pelbagai bidang hidup sehari-hari? Atau tidak usah jauh-jauh, adakah di dalam gereja sendiri tampak tanda-tanda dan keadaan Kerajaan Allah? Jika kita mengharapkan datangnya keadaan Kerajaan Allah, itu berarti kita harus resah terhadap keadaan di mana terdapat praktik praktik yang adalah kebalikan dari keadaan Kerajaan Allah tersebut. Perasaan resah itu harus mendorong kita untuk lebih banyak berusaha.

Pengharapan harus berpijak atas kewajaran, baik kewajaran dalam hal waktu maupun hasil. Dalam pengharapan kita akan Kerajaan Allah, ukuran kewajaran itu bukan terletak di tangan kita, melainkan tergantung dari "kerelaan kehendak" Allah sendiri (Ef. 1:5). Sebab, bukankah Allah sendiri yang akan menyempurnakan perwujudan Kerajaan-Nya (lih. Why. 21). Kita disuruh oleh Yesus untuk meneruskan pekerjaan yang telah dimulai oleh-Nya sambil berpengharapan bahwa la akan menggenapkan pekerjaan-Nya itu secara sempurna.

Antara angan-angan dan pengharapan memang bisa terjadi kekaburan. Akan tetapi adanya dasar, usaha dan kewajaran, menjadikan pengharapan kita akan Kerajaan Allah bukan angan-angan, melainkan pengharapan. Berbahagialah orang yang mempunyai pengharapan dan yang bersedia membayar harga untuk membuat pengharapannya menjadi kenyataan
KAMBING HITAM

KAMBING HITAM

Seorang karyawan dimarahi oleh atasannya di kantor. la tidak senang dimarahi, namun ia tidak bisa melawan. Rasa jengkelnya dipendam. Setibanya di rumah seperti biasa ia mengetuk pintu. Ketika istrinya membuka pintu, karyawan tadi langsung marah, "Mengapa buka pintu begitu lama?!" Istrinya heran dan berpikir ini tidak lama, ini seperti biasa, tetapi mengapa dia dimarahi? Istrinya menjadi jengkel, namun ia tidak bisa melawan. Ketika kemudian anaknya pulang, sang istri langsung marah, "Mengapa bajumu begini kotor? Ibu capek mencuci baju, mengerti?" Anak itu merasa heran, mengapa ia tiba tiba dimarahi. Tiap hari pun bajunya seperti begini, mengapa sekarang tiba-tiba dimarahi? Namun, anak ini tidak bisa melawan. Ketika kucing nya lewat, dengan perasaan marah ia menendang kucing itu. Keruan saja kucing itu terkejut dan lari sambil mengeong kesakitan.

Itu disebut pengalihan agresi atau displacement of aggression. Gejala itu terjadi ketika perilaku agresif verbal atau fisik dialihkan dari sumber frustrasi yang sesungguhnya ke sumber frustrasi pengganti. Suami merasa jengkel kepada atasannya, namun mengalihkan itu kepada istrinya, lalu istri kepada anak, dan anak kepada kucing.

Yang lebih pelik lagi adalah proyeksi. Seseorang mengalami perlakuan buruk pada masa kecilnya. Akibatnya, ia membenci keluarganya. Ketika ia sudah dewasa, di mental bawah sadarnya terpendam rasa benci. Namun, ia tidak mengakui hal itu. Yang dirasakannya adalah justru kebalikannya, yaitu bahwa orang-orang di sekitarnya membenci dia. la memproyeksikan rasa benci yang ada pada dirinya kepada orang lain. Proyeksi adalah pengalihan sifat dan perasaan dari mental bawah sadar seseorang kepada orang lain. Baik dalam proyeksi maupun pengalihan agresi terjadi pelemparan kesalahan. Ada pihak yang tidak tahu apa-apa dan juga tidak bersalah apa-apa, namun dijadikan pihak yang bersalah. Ini gejala kambing hitam.

Perilaku mencari kambing hitam sering terjadi di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari. Direktur memarahi kepala bagian, kepala bagian memarahi bawahannya, bawahan itu memarahi lagi orang yang di bawahnya, dan seterusnya. Sebuah benda pun bisa dijadikan kambing hitam. Seorang sekretaris yang jengkel kepada atasannya menimpakan rasa jengkel itu dengan melempar pulpen ke meja. Sebuah persamaan dari pelbagai bentuk perilaku mengambinghitamkan adalah bahwa yang dipilih menjadi kambing hitam adalah pihak yang tidak bisa membalas dan yang kedudukannya lebih lemah.

Apa itu sebenarnya perilaku cari kambing hitam? Orang mencari kambing hitam ketika ingin melindungi diri dari suatu kenyataan yang tidak mau diterimanya. Untuk melindungi diri dari suatu "serangan", ia membuat strategi mempertahankan diri. Misalnya, karena takut dipersalahkan atau karena tidak mau bertanggung jawab atas suatu kesalahan, ia cepat-cepat mempersalahkan orang lain. Perbuatan mencari kambing hitam merupakan "pasang kuda-kuda" atau strategi bersiap karena khawatir akan diserang. Psikoanalisis menerangkan bahwa perilaku cari kambing hitam merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan ego.

Kebiasaan cari kambing hitam bisa jadi terbentuk karena pengaruh orangtua. Ketika pintu kamar terbuka sehingga nyamuk masuk, ibu langsung berkata, "Tono sih, keluar masuk, jadi pintu terbuka." Padahal pintu itu terbuka sendiri. Anak yang sering dipersalahkan atau digugat padahal ia sama sekali tidak bersalah, kelak akan tumbuh menjadi pribadi yang suka cari alasan untuk membenarkan diri, suka bela diri padahal tidak ada yang menyerang dia, atau suka mempersalahkan orang lain. la mudah membuat alibi atau menghindar dari suatu tanggung jawab dengan berkata, "Maaf, saya tidak bisa mengerjakan karena komputer saya rusak," atau "Maaf, laporan saya terlambat karena anak saya sakit." Atau, ia mudah sekali membela diri kalau ada persoalan dengan cepat-cepat berkata, "Bukan saya," atau "Saya tidak tahu. Atau, ia mudah mempersalahkan orang lain dengan berkata, "Dia sih..." atau "Kamu sih..."

Budaya mengkambing-hitamkan bisa juga timbul karena kebiasaan dalam masyarakat. Ketika ada musibah kereta api anjlok dari rel, pejabat langsung berkata, "Akan diselidiki kalau-kalau ada sabotase." Pernyataan seperti itu menggiring opini publik ke arah mencari kambing hitam. Demikian pula pernyataan seperti, "Bahaya laten partai terlarang harus terus diwaspadai", "Ada pihak tertentu yang senang melihat ekonomi kita ambruk", "Dalangnya sudah diidentifikasi, tetapi belum waktunya untuk ditangkap", atau "Ada negara tetangga yang cuma mau untung". Sikap seperti itu tidak edukatif sebab kita tidak ditolong untuk melihat dan memperbaiki kesalahan, malah melemparkan kesalahan itu kepada pihak lain.

Dari mana asal-usul istilah kambing hitam? Sebetulnya, istilahnya adalah kambing dosa (Sundenbock atau zondebok) atau kambing lari scape goat). Asal-usulnya adalah tradisi umat Israel di zaman Eksodus. Mereka melakukan upacara penyucian dosa setahun sekali dengan jalan menjadikan seekor kambing sebagai lambang pembawa dosa seluruh umat lalu kambing itu disuruh lari ke gurun (lih. Im. 16).

Agaknya, mental mempersalahkan orang lain sudah ada pada kita "dari sononya". Dalam cerita Kejadian Tuhan bertanya kepada Adam, "Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang...?" Adam cepat-cepat menjawab, "Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi ..." Lalu Hawa juga cepat-cepat melempar kesalahan dan berkata, "Ular itu yang memperdayakan aku..." (lih. Kej. 3).

Kita begitu mudah melempar kesalahan. Kambing hitam begitu mudah dicari. Ada sebuah cerita lucu tentang seorang pendeta gemuk yang doyan makan kambing guling dan sering dijadikan kambing hitam. Apa hubungannya kambing guling dengan kambing hitam? Begini ceritanya. Ada seorang pendeta ... Wah, maaf pembaca. Saat ini di rumah saya tiba-tiba listrik padam. Saya tidak bisa meneruskan cerita ini. Rumah saya gelap. Bagaimana saya bisa menulis? Ini bukan salah saya. Listriknya sih... 

KAMULAH TANGAN-KU

KAMULAH TANGAN-KU

 


Kabayan sedang menggali lubang. Tetangganya heran dan bertanya.

T: Kabayan, untuk apa gali lubang? K: Untuk tanam pisang. T: Untuk apa tanam pisang? K: Untuk dimakan. T: Untuk apa makan pisang? K: Untuk dapat tenaga. T: Untuk apa dapat tenaga? K: Untuk gali lubang ...

Untuk apa kita bekerja? Apa kita bekerja untuk makan? Ataukah kita makan untuk bekerja? Semua orang bekerja. Menanggung lelah. Menahan jengkel. Memeras pikiran. Mengucurkan keringat. Menghabiskan tenaga. Membanting tulang dari pagi sampai petang.

Bayangkanlah seorang paramedis di bagian gawat darurat yang sepanjang hari berdiri menunduk menjahit robekan tubuh korban yang mengerang kesakitan karena ususnya terburai keluar dari perut yang berlumuran darah. Atau, bayangkan seorang masinis kereta api yang pukul tiga pagi sudah menyalakan tungku batu bara lokomotif, Atau, manajer bank yang sampai larut malam menghadapi setumpuk hitungan. Atau, ibu rumah tangga yang pekerjaannya tidak pernah ada habisnya. Untuk apa mereka bekerja? Untuk apa kita bekerja? Kita bekerja untuk mendapat nafkah. Akan tetapi, sesempit itukah tujuan kerja? Masakan hidup ini hanya bertujuan untuk mencari nafkah?

Kita adalah makhluk yang lebih dari sekadar punya mulut dan perut. Kita mempunyai martabat diri dan hati nurani. Diri itu tidak akan terwujud kalau kita cuma goyang-goyang kaki. Karena itu, kita bekerja. Dengan bekerja diri kita diaktualkan. Dengan bekerja diri kita jadi berarti dan memberi arti.

Punya arti dan memberi arti bisa dilakukan tiap orang, betapapun "kecil" pekerjaannya. Pekerjaan yang tampak kecil mempunyai dampak besar. Yang diperbuat seorang penjaga pintu perlintasan kereta api bukan sekadar menjaga sebuah pintu kereta, melainkan menjaga puluhan nyawa manusia. Yang diperbuat seorang ibu bukan sekadar menyiapkan nasi, melainkan menyiapkan masa depan putra dan putri.

Setiap orang perlu bekerja. Sebab itu, yang pertama-tama diberikan Tuhan kepada Adam bukanlah istri, melainkan pekerjaan (lih. Kej. 2:15). Sebab itu pula Paulus menulis, "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" (2Tes. 3:10). Kita bekerja, bahkan untuk itu kita disuruh oleh Amsal 6:6 untuk belajar dari semut, yaitu belajar bekerja dengan rajin dan tekun, tidak banyak bicara dan tidak egois. Di pihak lain kita juga disuruh beristirahat, sebab Tuhan sendiri juga beristirahat (lih. Kej. 2:2-3). Kerja adalah ibarat senar gitar. Terlalu kencang dia putus, terlalu kendor dia tidak bunyi.

Kita bekerja karena Tuhan bekerja. Tiap pagi Tuhan membangunkan surya. Tiap petang la menidurkan senja. la meniup awan. la meneteskan hujan, la menghidupkan indung telur. la mengembuskan napas jabang bayi. Ia mengajar anak ikan berenang. la sibuk terbang kian kemari sebagai burung merpati.

Kita bekerja karena diajak bekerja bersama-sama Tuhan. Kita adalah "kawan sekerja Allah" (1 Kor. 3:9). Ketika kita bekerja Tuhan bekerja dekat kita. Sekali-kali la menoleh kepada kita. la tahu bahwa kita lelah. la juga letih. Ia mengangguk kagum melihat ketekunan kita. Kata filsuf Rabindrat Tagore, "Tuhan menghargai aku ketika aku bernyanyi, la menghormati aku ketika aku bekerja."

Pekerjaan kita masih banyak dan panjang. Hasilnya belum tampak. Benarkah belum tampak? Sebetulnya, sudah tampak dalam visi dan impian. Selangkah demi selangkah sambil terbungkuk Michelangelo menyeret sebuah batu besar dengan tali di pundak. Orang yang melihat itu bertanya, "Mau apa kamu susah-susah dengan batu macam begitu?" Michelangelo, pemahat besar dari abad ke-16 itu, menjawab, Karena di dalamnya ada malaikat."

Kristus bekerja untuk kita, dan kita bekerja untuk Dia. Seperti kata Paulus, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan..." (Kol. 3:23). Dalam Perang Dunia I sebuah gereja di Munster rusak kena bom. Patung Kristus di situ juga rusak. Kedua lengan patung itu putus. Tinggallah patung Kristus itu berdiri di situ tanpa tangan. Kemudian di bawah patung itu orang memasang tulisan, "Aku tidak punya tangan selain kamu. Kamulah tangan-Ku."

Kita bekerja karena hidup ini mempunyai arti. Kita bekerja supaya hidup ini memberi arti. Hidup ini cuma sekali. Sekali berarti sesudah itu mati. Soalnya, apakah hidup kita sekarang ini sudah mempunyai arti dan sudah memberi arti?

Selama tenaga masih ada. Selama waktu masih tersedia. Kata Yesus, "Selama masih siang..." (Yoh. 9:4). Kita bekerja. Kata Yesus pula, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17), Itu sebabnya kita bekerja. Selamat bekerja. Selamat berkarya. Segala sumber kerja kita berasal dari Kristus. Semoga segala hasil kerja kita berkenan bagi Kristus. Seperti doa kita di dalam Kidung Jemaat 322:4: Tenaga dan kuat,                                          kerja yang kubuat kepunyaan-Nya. Dengan rendah hati hendak kuhormati.                                         Yang Mahaesa.