PADUSUARA DALAM MENEMBANGKAN KEBENARAN DAN KEADILAN!

PADUSUARA DALAM MENEMBANGKAN KEBENARAN DAN KEADILAN!

“Karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dan pada dirinya sendiri dan janganlah tiap tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:2-4).

Akhir pekan lalu saya berkesempatan menyaksikan konserpaduan suara di Goethe Institut, Jakarta, Saya cukup antusias menikmati alunan vokal Paduan Suara BMS-yang menurut pengamat musik termasuk dalam daftar paduan suara berkualitas di Indonesia.

Bunyi gong menjadi tanda dimulainya konser malam itu. Didahului sambutan seorang master of ceremony, para anggota paduan suara pun memasuki panggung. "Pertunjukan yang baik memang tergantung kepada saya, tapi saya sebagai bagian dari keseluruhan tim!"

Satu per satu, lagu-lagu klasik dari Renaisance dan Zaman keseluruhan tim!" Barok dinyanyikan dengan merdu oleh paduan suara tersebut. Malam hari itu, penampilan mereka luar biasa! Uniknya, sampai lagu terakhir yang mereka bawakan, saya tetap tidak dapat membedakan antara wars penyanyi A, penyanyi B, penyanyi C. Tentu saja, saya masih dapat membedakan suara kelompok sopran atau alto dan suara kelompok tenor atau bas namun sulit untuk membedakan antara suara penyanyi sopran yang berdiri disisi paling kanan dengan penyanyi sopran berdiri di sisi paling kini. Suara mereka sungguh blend voices.

Apa yang menjadi kunci keberhasilan mereka? Mereka saling mendengarkan. Mereka tidak sekedar bernyanyi, tetapi juga mendengarkan untuk menjaga keseimbangan suara mereka dengan rekan yang ada di sisi sebelah kanan, sisi sebelah kiri, bahkan keseimbangan antara kelompok suara yang satu dengan kelompok suara yang lain. Ada pengendalian diri serta pemahaman bahwa pertunjukan yang baik memang tergantung kepada saya, tapi saya sebagai bagian dari keseluruhan tim! Saya harus melakukan semua upaya yang saya bisa, namun tetap menjaga keseimbangan dan keutuhan tim.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi. Paulus mengajarkan bahwa orang beriman hendaknya mengutamakan orang lain, sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Paulus ingin agar orang percaya di Filipi berbeda dari orang yang tidak percaya, hanya mementingkan diri sendiri. Di dalam Kristus, egoisme, individualisme tidak mendapat tempat. Sebaliknya di dalam Kristus orang akan rela untuk saling mendengarkan, menasihati, menghiburkan, bersekutu dalam Roh, mengobarkan kasih mesra dan belas kasihan.

Mari, nyatakan kembali hidup Kristus melalui hidup kita yang mendengarkan orang lain, sehingga dengan suara yang padu kita dapat menyanyikan tembang keadilan dan kebenaran dengan merdu!