CIRI-CIRI CENDEKIAWAN

CIRI-CIRI CENDEKIAWAN

Cendekia atau inteligen berarti tajam pikiran dalam memahami masalah serta cakap mencari jalan keluarnya. Cendekiawan adalah orang yang mampu berpikir dengan tajam untuk memahami masalah dan menyumbangkan jalan keluar dari masalah itu bagi kebaikan orang banyak. Jadi, sebenarnya kaum cendekiawan atau inteligensia bukan hanya mereka yang bergelar sarjana atau berkedudukan manajer. Seorang petugas di kantor yang hanya lulusan sekolah dasar bisa saja memilik sifat cendekia. Sebaliknya, manajer yang bergelar MBA bisa jadi kurang cendekia. Namun, dalam praktiknya, cendekiawan memang berarti orang yang terpelajar atau pandai.

Pengertian terpelajar juga perlu diluruskan. Banyak mahasiswa dan sarjana yang baru lulus mengira bahwa ciri orang pandai adalah berbicara secara sulit dan rumit. Mereka mengira bahwa ciri makalah yang ilmiah adalah adanya istilah-istilah yang hebat dan berbau asing. Padahal, ciri sebuah pemikiran yang ilmiah adalah adanya uraian yang teratur dan jelas, adanya penilaian yang pada satu pihak didukung oleh penalaran yang mendasar, namun pada lain pihak tetap terbuka untuk diperbaiki atau diubah lagi.

Ciri utama cendekiawan adalah kejernihan pemikirannya dan manfaat pemikiran itu bagi kepentingan umum. Seorang cendekiawan tidak hanya pandai berpikir untuk kepentingan dirinya atau kepentingan golongannya sendiri, tetapi untuk kepentingan semua golongan yang ada. Jika masalahnya menyangkut pertikaian antara dua pihak, ciri pola pikir cendekiawan adalah sumbangan pemikirannya yang membawa kebaikan dan mendamaikan kedua pihak. Dalam istilah gagahnya, ciri pemikiran cendekiawan adalah inklusif (dari to include = mengikutsertakan, merangkul, atau memasukkan) sebagai lawan dari ekslusif (dari to exclude = menyisihkan, menyingkirkan, mengeluarkan). Ciri pemikiran cendekiawan yang lainnya adalah kontributif (dari to contribute = menyumbang manfaat) bagi semua pihak.

Oleh karena itu, fungsi utama organisasi cendekiawan adalah menelaah masalah masyarakat umum dan menyumbangkan jalan keluar yang berguna untuk orang banyak. Merupakan salah kaprah kalau orang masuk sebuah ikatan cendekiawan untuk mencari kedudukan atau pengaruh, sebab ciri cendekiawan bukanlah kedudukan melainkan pemikiran. Kalau orang ingin mencari kedudukan, jalurnya bukanlah organisasi cendekiawan, melainkan organisasi sosial politik. Juga keliru kalau sebuah ikatan cendekiawan hanya memperjuangkan kepentingan satu golongan lalu menyisihkan kepentingan golongan lain sebab ciri cendekiawan adalah justru mengikutsertakan semua golongan dan menyumbangkan manfaat bagi semua golongan tanpa membuat pembedaan (diskriminasi) atas dasar apa pun. Cendekiawan yang bersifat eksklusif dan diskriminatif menyangkal hakikat dirinya sendiri sebagai cendekiawan.

Sebab itu, tempat di mana para cendekiawan belajar dan bekerja merupakan ajang utama perwujudan sifat-sifat cendekia. Sebuah perguruan tinggi, misalnya, adalah tempat di mana para pelajar dan pengajarnya melakukan banyak penelitian (kepustakaan, lapangan, laboratorium, dsb.) dan menyumbangkan hasil penelitian itu dalam bentuk buku, penemuan, atau karya lainnya. Tiap orang yang cendekia berhak untuk berkarya di perguruan tinggi tanpa pembedaaan atas dasar apa pun. Dalam hubungan ini Sekolah Tinggi Teologi Jakarta membuat pernyataan inklusif itu secara tertulis, "Sekolah Tinggi Teologi Jakarta tidak membuat pembedaan atas dasar jenis kelamin, suku keturunan/kebangsaan, aliran gereja, pandangan teologi, pandangan ideologi, keadaan fisik, usia, atau faktor-faktor non-akademis/non psikis lainnya."

Pola kerja cendekiawan adalah sifat inklusif dan kontributif. Beberapa cerita kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa Tuhan Yesus berpola kerja seperti itu, misalnya cerita dalam Yohanes 9. Masalah dalam cerita itu adalah tempat para penyandang cacat fisik dalam masyarakat. Agaknya, pada zaman itu ada cukup banyak penyandang cacat di kota Yerusalem. Karena tidak mendapat pekerjaan mereka menjadi peminta-minta. Akibatnya kehadiran mereka terasa mengganggu.

Lalu orang-orang mulai mempersoalkan siapakah yang berdosa sehingga terjadi cacat itu, apakah penyandang cacat itu sendiri ataukah orangtuanya? Perhatikan pola pikir orang-orang ini. Yang mereka lakukan bukanlah menolong para penyandang cacat, melainkan menuduh bahwa penyandang cacat atau orangtuanya berdosa. Inikah cara berpikir orang beragama? Mempersoalkan wanita berpakaian minim sebagai dosa, tetapi tidak berbuat apa-apa bagi gelandangan berpakaian minim di kolong jembatan.

Rupanya hubungan antara cacat dengan dosa itu menimbulkan perbedaan pendapat. Sekelompok berpendapat itu dosa penyandang cacat sendiri, yang lain berpendapat itu dosa orangtuanya. Mungkin perbedaan pendapat itu ada juga di antara kedua belas murid Yesus. Sebab itu mereka bertanya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" (ay. 2).

Pertanyaan itu cukup menjebak sebab jawabnya sudah digiring pada salah satu dari pilihan yang hanya dua Jawaban itu dapat digunakan oleh satu kelompok untuk menjatuhkan kelompok yang lain. Tetapi, baik jawaban pertama maupun jawaban kedua tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi penyandang cacat sebab ia tetap saja tersingkir dari masyarakat. Kedua jawaban itu juga tidak memberi manfaat bagi masyarakat sebab masyarakat tetap saja menghakimi penyandang cacat dan orangtuanya sebagai pendosa, dan kedua jawaban itu tetap memecah-belah masyarakat dalam dua golongan pendapat.

Lalu apa jawaban Tuhan Yesus? Ternyata Yesus tidak memilih jawaban pertama ataupun jawaban kedua. Yesus sama sekali tidak menghubungkan penderitaan atau penyakit penyandang cacat dengan dosa. Yesus menjawab, "Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia" (ay. 3), Segera setelah itu Yesus menyembuhkan penyandang cacat tadi dan dengan demikian memulihkan dia untuk kembali ke masyarakat.

Perhatikanlah kejernihan jawaban Yesus, "... karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia". Lalu siapa yang harus melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah itu? Yesus berkata, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia..." (ay. 4). Daripada mempersoalkan dosa penyandang cacat, menurut Yesus lebih baik kita menolong mereka. Memulihkan kembali harkat martabat para penyandang cacat sebagai ciptaan yang dihargai Allah, itulah pekerjaan yang perlu kita lakukan. Perhatikan pula kesempatan atau waktu untuk melakukan pekerjaan itu, "... selama masih siang; akan datang malam di mana tidak seorang pun yang dapat bekerja" (ay. 4). Artinya: sekarang!

Cerita ini menunjukkan bahwa Yesus berpola kerja sebagai cendekiawan. Yesus dengan jeli memahami masalah. Yesus memberi jalan keluar. Jalan keluar-Nya tidak memihak dan tidak menyisihkan pihak maupun. Jalan keluar-Nya memberi manfaat bagi semua pihak: penyandang cacat dipulihkan martabatnya, baik penyandang cacat maupun orangtuanya dibebaskan dari tuduhan dosa, kedua kelompok yang bertikai didamaikan dan masyarakat dididik untuk bersikap terbuka pada para penyandang cacat.

Itulah ciri karya cendekiawan: inklusif dan kontributif terhadap semua orang.

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)


SETIA DALAM PERKARA KECIL

SETIA DALAM PERKARA KECIL

Kita cenderung menghargai orang yang berjasa dalam tugas atau perkara yang besar. Orang yang melakukan perkara kecil biasanya disepelekan. Tetapi melalui perumpamaan dalam Matius 25:14-30 Tuhan Yesus justru menghargai orang yang setia dalam perkara kecil. Di situ diceritakan tentang tiga orang hamba yang diberi modal sebesar lima, dua dan satu talenta. Talenta memang merupakan pecahan mata uang yang besar, namun kalau jumlahnya hanya lima atau dua talenta, maka artinya menjadi kecil (bandingkan dengan jumlah utang sepuluh ribu talenta yang disebut dalam Mat. 18:24) Apalagi kalau mau dipakai sebagai modal, maka lima atau dua talenta sangat kecil artinya.

Akan tetapi, dua dari tiga hamba itu berhasil mengembangkan modal yang kecil ini. Lalu sang majikan memuji mereka sebagaimana diucapkan oleh Yesus di ayat 21 dan 23. Di sini Kerajaan Surga diumpamakan oleh Tuhan sebagai keadaan di mana orang yang setia menjalankan tugas yang kecil dihargai dan dipuji.

Berbicara tentang setia dalam memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, saya jadi teringat akan Pdt. Titus Yansaputra, teman sekelas dan seasrama di Sekolah Teologi Balewijoto Malang selama enam tahun, yang kini sudah meninggal dunia. Dibandingkan dengan rekan-rekan pendeta lain, agaknya Yansaputra tergolong "pendeta kecil". la bukan pendeta yang suka keliling ke sana kemari memimpin kebaktian kebangunan rohani sehingga namanya terkenal. Wajahnya tidak pernah muncul di TV, suaranya tidak pernah terdengar di radio, dan namanya tidak pernah tertera di koran.

Di sekolah pun Yansaputra cenderung agak pemalu dan pendiam la tidak suka menonjolkan diri. Prestasi akademisnya biasa-biasa saja. la termasuk mahasiswa berpredikat antara Charlie dan Beta. Tetapi, ia bersahabat dengan mereka yang berprestasi Alfa. la bukan seorang pengiri, la bisa berdamai dengan dirinya. Di asrama, ia disukai semua orang.

Karakter Yansaputra yang mencolok adalah kesetiaannya. Sampai jauh malam ia terus menekuni tugas dari para guru. Semua itu dikerjakannya dengan tenang dan senang. Tidak pernah ia menggerutu kalau ada dosen yang memberi tugas terlalu banyak. Semua tugas dilaksanakannya dengan tuntas. Tulisannya rapi. Tidak pernah saya melihatnya terburu-buru supaya cepat terbebas dari tugas. Tenang, tekun, rapi, akurat, lengkap, tuntas, dan setia. Itulah keunggulannya. la setia pada perkara kecil.

Setamat sekolah, Yansaputra menjadi pendeta jemaat GKI Banjar dan Ciamis. Kemudian ia bermutasi ke Indramayu. Dari situ ke GKI Halimun Jakarta. Semua jemaat itu termasuk kategori jemaat kecil. Ternyata di jemaat pun kepribadian Yansaputra tetap konsisten: tidak suka menonjol tetapi tekun dan rapi melaksanakan tugasnya. Selama 33 tahun ia melayani gereja pada tingkat akar padi. Ia bukan selebriti yang pergi ke sana-sini. Selama 33 tahun ia tinggal di tempat untuk memelihara apa yang harus dipelihara, yaitu domba-domba milik Gembala Agung.

Mutu pekerjaan Yansaputra pernah pula memukau seorang mantan gurunya. Pada suatu hari Minggu pagi secara mendadak mantan dosennya dari Belanda muncul di GKI Indramayu. Sengaja ia tidak memberitahukan kedatangannya, supaya segala sesuatu berjalan wajar. Ternyata ia sangat terkesan pada kinerja Yansaputra di mimbar pada pagi itu, khotbah dan liturgi yang dipersiapkan matang, eksegese yang teliti dan kepatuhan pada tahun gerejawi yang jitu.

Kini Yansaputra telah tiada. Selama beberapa bulan terakhir kesehatannya sering terganggu. Tetapi, dalam keadaan demikian ia tetap bekerja. Beberapa waktu yang lalu ia sempat menghadiri kebaktian peluncuran buku. Mulai dari Musa dan Segala Nabi di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Gayanya masih seperti empat puluh tahun silam, tersenyum tersipu-sipu dan menyimak apa yang didengar dan dilihatnya dengan kening yang berkerut. Pada siang itu, sambil melongok ke dalam kantor saya, ia berucap, "Sama seperti kamarmu dulu di Balewijoto, meja tulisnya dipasang miring di pojok." Itulah ucapannya yang terakhir di telinga saya.

Sekarang Yansaputra hanya tinggal kenangan. Gereja kehilangan seorang tenaga andal. Pagi subuh itu, ketika ada telepon yang mengabarkan bahwa Pdt. Titus Yansaputra meninggal dunia, saya terdiam dan menerawang jauh. Saya seolah-olah melihat Yansaputra berdiri di depan sebuah gedung dengan raut muka yang khas; senyum sipu tetapi pandangan mata yang hidup dengan kening berkerut. Lalu saya seolah-olah melihat Yesus keluar dari gedung itu, berjalan menuruni tangga, menyambut dan menyapa Yansaputra. Lalu mereka berdua berjalan bersama menaiki tangga gedung itu. Yesus memegang dan menepuk-nepuk pundak Yansaputra sambil berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia, engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu."

PATHOS, BUKAN A-PATHOS!

PATHOS, BUKAN A-PATHOS!

Dibaca secara sepintas, perikop 2 Korintus 8:1-15 tampaknya ber bicara tentang kekayaan. Uang dan kekayaan memang menarik untuk dibicarakan dan dipelesetkan. Ada beberapa pelesetan tentang orang kaya, misalnya OKB: Orang Kaya Baru; OKD: Orang Kaya Dadak an; OKP: Orang Kaya Proyek; dan yang paling banyak seperti kita semua, adalah OKM: Orang Kaya Monyet. Ada juga pelesetan "Kaya Seven Up", artinya 'kaya tujuh turunan anak dan cucu'. Bahkan kita pun mempunya pelesetan KGB. Bukan hanya di Moskow, tetapi juga di Jakarta ada KGB: Kaya Gara-gara Babe.

Memang benar di sini Rasul Paulus berbicara tentang uang dan kekayaan. Ketika itu ia sedang berada di Makedonia, sebuah daerah pedalaman yang miskin. Tetapi, ternyata orang Makedonia yang miskin memberikan banyak bantuan uang kepada gereja di Yerusalem. Meli hat keadaan ini Paulus terdorong untuk menulis surat kepada warga gereja di Korintus. la menulis, "... kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang... jemaat-jemaat di Makedonia ... meskipun me reka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan... mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan" (ay, 1-5). Korintus sebenarnya bukan bandingan Makedonia. Korintus adalah kota besar. Korintus adalah titik temu jalan perdagangan darat utara-selatan di Provinsi Akhaya. Lagi pula Korintus adalah kota pelabuhan. Penduduknya makmur. Di Korintus hanya ada 200 ribu penduduk, tetapi di situ ada 600 ribu tenaga pelayan. Bandingkan rasionya, yaitu 1:3. Untuk satu orang tersedia tiga pelayan. Orang Korintus memang makmur.

Akan tetapi, walaupun warga gereja Korintus makmur, mereka kurang suka memberi bantuan kepada gereja di Yerusalem. Mereka kurang perhatian terhadap gereja lain. Gereja Korintus hanya sibuk dengan urusan diri sendiri. Yang mereka sibuki adalah persoalan rebutan kedudukan pemimpin, ada dari golongan Paulus, atau go longan Apolos, atau golongan Kefas. Yang juga mereka sibuki adalah persoalan makanan sembahyang, persoalan tutup kepala perempuan dalam ibadah, persoalan bahasa lidah dan sebagainya. Singkatnya, yang mereka sibuki hanyalah urusan internal.

Kalau tentang urusan menyokong gereja lain mereka kurang peduli. Oleh karena itu, Paulus menegur secara halus, "Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan menyelesaikannya juga. Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu!" (ay. 10-11).

Sekali lagi, memang benar di sini Rasul Paulus sedang bicara ten tang uang. Tetapi sebetulnya, di balik kalimat-kalimatnya tersirat satu pokok bahasan yang jauh lebih dalam. Di sini Paulus sedang mendidik dan mengubah gaya hidup orang Korintus. Ia mengajar, "... hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini" (ay. 7).


Rasul Paulus di sini sedang mengajar, sebab ia sendiri baru saja belajar sesuatu dari orang-orang Makedonia, "... meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan" (ay. 2). Paulus mengajar orang Korintus supaya bercermin pada gaya hidup orang orang Makedonia Orang-orang Makedonia miskin dalam hal harta, namun kaya dalam kemurahan. Sebaliknya, orang Korintus kaya dalam harta, namun miskin dalam kemurahan. Di Makedonia ada kasih Di Korintus kebalikannya. Apa itu kebalikan dari kasih?

Kita cenderung beranggapan bahwa kebalikan dari kasih adalah benci. Tetapi, benarkah itu? Benarkah gereja Korintus membenci gereja lain? Sama sekali tidak! Lawan kata kasih bukanlah benci

Psikoterapis Rollo May dalam bukunya Love and Will menulis, "Hate is not the opposite of love, apathy is." Lawan kata kasih bukanlah benci, melainkan apati atau a-pathos. May menjelaskan, "Apathy is a state of feelinglessness... affectlessness, lack of passion... indifference, it is a withdrawal of feeling, it may begin as playing it cool... unconcerned, unaffected... uninvolved." A-pathos adalah ketiadaan perasaan atau miskin rasa terhadap orang lain. A-pathos tumbuh secara bertahap mulai dari sikap yang tampaknya innocent (tidak apa-apa) seperti sikap cuek, tetapi kemudian bisa bertumbuh menjadi perbuatan kejam dan destruktif.

A-pathos bisa muncul dalam pelbagai bentuk yang berbeda beda. Seseorang membunuh dengan darah dingin, itu fenomena a-pathos. Seorang ayah menggebuk anaknya hanya karena anak itu mengucapkan kritik, itu contoh a-pathos. Akibatnya, anak itu bisa menjadi a-pathos, bahkan semua anak lain akhirnya menjadi a-pathos. Seseorang menggunakan kekuasaannya secara berlebihan dan gan drung melanggengkan kekuasaannya, itu bisa jadi gejala a-pathos yang kemudian menimbulkan sikap a-pathos pada orang-orang lain.

A-pathos adalah ketiadaan perasaan atau miskin rasa terhadap perasaan orang lain. A-pathos timbul ketika orang hanya merasakan perasaan diri sendiri. A-pathos bisa bervariasi mulai dari perilaku pasif, introver, dan isolasi diri sampai ke perilaku beringas, agresif, dan sadis. A-pathos bisa muncul dalam rupa-rupa wujud: cuek, menyendiri, masa bodoh, acuh tak acuh; kemudian bisa berkembang menjadi hilang rasa peduli, keterasingan, serakah, gila kekuasaan, represi, eksploitasi, dan dominasi. A-pathos tampak dalam gaya hidup kenyang sendiri, maju sendiri, menang sendiri, enak sendiri, pintar sendiri, benar sendiri Rasul Paulus mensinyalir gejala a-pathos itu pada warga gereja Korintus. Gereja Korintus bukan membenci gereja lain, tetapi gereja Korintus a-pathos kepada gereja lain. Gereja Korintus kaya harta, tetapi miskin rasa. Sebab itu, Paulus mendidik, "Hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih" (ay. 7).

Gejala a-pathos tentunya bukan khas Korintus, melainkan bisa terdapat pada siapa saja. Sebuah pemerintah bisa menjadi a-pathos, begitu juga rakyatnya. Agama bisa menjadi a-pathos. Gereja bisa menjadi a-pathos. Mungkin sinyalemen Rasul Paulus itu juga berlaku untuk gereja-gereja kita. Kita mengaku diri anggota-anggota satu tubuh. Kita bertemu. Kita berjabat tangan. Tetapi sesudah itu? Kita bersikap a-pathos lagi.

Gejala a-pathos, itulah pokok bahasan yang tersirat dalam per kop Rasul Paulus ini. A-pathos yaitu miskin perasaan, miskin afeks miskin pelayanan kasih. Karena itu, Paulus mengajarkan gaya hidup yang sebaliknya, yaitu kaya pathos: kaya perasaan, kaya afeksi, kaya pelayanan kasih. Kata Paulus, "Hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih."

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)


DARMA TIGA POHON CEMARA

DARMA TIGA POHON CEMARA

Di puncak suatu bukit tumbuh tiga anak pohon cemara. Ketiganya mempunyai cita-cita yang tinggi. Demikian awal sebuah dongeng beberapa ratus tahun yang lalu.

Pohon pertama berkata, "Kalau aku sudah besar, aku ingin ditebang lalu dijadikan sebuah peti penyimpan harta karun. Aku akan berada di istana yang megah. Tugasku nanti menyimpan intan, berlian, ukiran emas, dan perhiasan yang bagus dan mahal."

Pohon kedua berkata, "Aku ingin dibuat menjadi kapal, ya sebuah kapal pesiar yang besar dan bagus. Kapal itu nanti digunakan oleh para saudagar kaya berlayar ke mancanegara."

Pohon ketiga berkata, "Cita-citaku berbeda. Aku tidak ingin ditebang. Aku tidak ingin dijadikan apa-apa. Aku ingin terus berdiri tegak menjulang tinggi ke langit di atas bukit ini, supaya tiap orang yang memandang aku akan menengadah dengan rasa kagum."

Begitulah ketiga anak pohon cemara itu tumbuh menjadi pohon yang tinggi dan besar. Lalu pada suatu hari datanglah seorang tukang kayu menebang pohon pertama. Pohon itu melonjak kegirangan, "Aku akan dijadikan peti harta karun!" Tetapi, apa yang terjadi? Ternyata pohon itu dibuat menjadi palungan tempat makanan ternak. Pohon ini merasa sangat kecewa la tidak berada di istana, tetapi sebuah kandang hewan.

Kemudian tukang kayu itu menebang pohon kedua. Pohon ini cemas-cemas girang. "Moga-moga aku dibuat jadi kapal pesiar. Eh ternyata betul Pohon ini dibuat kapal Bukan main girangnya dia. Tetapi, tunggu dulu, kapal apa ini? Ini bukan kapal pesiar Ini kapal nelayan yang sederhana. Pohon ini merasa kecewa. Tiap hari mengeluh, "Aku jadi bau ikan!"

Setelah itu, tukang kayu tadi naik lagi ke bukit. "Oh, jangan tebang aku," jerit pohon ketiga. Tetapi, jeritannya tidak terdengar Pohon ketiga itu pun ditebang. Apa yang diperbuat oleh tukang kayu dengan pohon ini? Pohon ini tidak dijadikan apa-apa, Ternyata ia hanya dijadikan balok yang besar, lalu disimpan di gudang.Itulah nasib ketiga pohon tadi. Tidak ada satu pun yang cita-cita nya terkabul. Mereka kecewa, sangat kecewa.

Lalu pada suatu malam, pohon pertama yang menjadi palungan di suatu kandang melihat kesibukan yang tidak biasa. Ada seorang ibu muda menginap dan melahirkan di kandang itu. Lalu bayi itu diletak kan di palungan. Pohon pertama itu merasakan sendiri hangatnya bayi itu. Lalu pohon itu melihat sinar sebuah bintang besar menyoroti dirinya. Terdengar pula nyanyian malaikat. Luar biasa, Siapa gerangan bayi ini?

Sekitar tiga puluh tahun kemudian, pohon kedua yang sudah menjadi kapal nelayan juga mendapat pengalaman yang istimewa. Ketika ia sedang berlabuh di tepi pantai, ia mendengar seorang guru mengajar orang banyak dengan penuh wibawa. Kemudian guru itu dengan dua belas murid-Nya naik ke kapal. Di tengah pelayaran tiba tiba angin topan bertiup kencang. Kapal itu dihempas oleh ombak tinggi kan kemari. "Pasti aku hancur dan tenggelam," pikir pohon kedua ini. Tetapi tiba-tiba guru itu berdiri dan berperintah, "Tenang!" Lalu ombak dan angin pun tenang Luar biasa. Siapa gerangan guru itu?

Beberapa tahun kemudian, pohon ketiga yang disimpan sebagai balok di gudang itu, tiba-tiba dikeluarkan oleh tukang kayu "Mau diapakan aku ini?" pikir pohon itu. Ternyata balok itu dijadikan sebuah salib yang besar. Lalu salib itu dipikul oleh seorang lelaki yang kepalanya dipasangi duri sehingga berlumuran darah. Salib itu dipikul selangkah demi selangkah menaiki sebuah bukit. Di atas bukit itu, pohon ketiga itu ditancap. Lalu orang tadi diikat dan dipaku pada pohon itu. Pohon itu merasakan tetesan darah-Nya. Langit menjadi gelap dan mencekam. Lalu semua orang yang lewat di bukit itu bertelut di depan pohon ketiga itu. Mereka menengadah ke langit dengan penuh khidmat. Luar biasa. Siapa gerangan orang ini?

Kalau sekarang ketiga pohon itu berkumpul dan saling mencerita kan pengalaman, pasti cerita mereka menarik. Mereka bercerita bahwa mula-mula mereka merasa sangat kecewa karena cita-cita tidak terkabul. Tetapi sekarang mereka justru merasa bangga dan bersyukur bahwa cita-cita itu tidak terkabul, sebab apa yang terjadi adalah justru lebih bagus daripada cita-cita semula.

Pohon pertama semula ingin menjadi tempat yang berisi harta karun, tetapi kemudian ia malah menjadi tempat yang berisi harta yang jauh lebih bernilai, yaitu bayi Kristus, penjelmaan Allah.

Pohon kedua semula ingin menjadi kapal yang mengangkut saudagar, tetapi kemudian ia malah menjadi kapal yang mengangkut Kristus, Guru yang Agung.

Pohon ketiga semula tidak ingin ditebang supaya orang kagum melihat dia menjulang tinggi di atas bukit. Benar, sekarang ia berdiri di bukit, bukan sekadar sebagai sebatang pohon, melainkan sebagai salib lambang karya Kristus, Juruselamat.

Cita-cita ketiga pohon cemara itu telah dimodifikasi atau diubah menjadi jauh lebih bagus daripada rencana semula. Perubahan itu mula-mula mengecewakan, tetapi kemudian setelah mereka mengerti kebaikan di belakang perubahan itu mereka jadi merasa bersyukur Sebab, ketiga pohon itu telah berdarma bagi Kristus.

Kita mempunyai cita-cita. Kita berupaya dan bekerja keras untuk mencapai cita-cita yang diinginkan itu. Tetapi, cita-cita itu belum tentu terkabul. Bisa jadi di tengah perjalanan terjadi perubahan dan rancangan semula. Akibatnya, kita bisa menjadi kecewa. Tetapi, bisa jadi perubahan itu sebetulnya justru akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Bisa jadi Tuhan sedang bekerja mengubah rancangan kita Sebab, Tuhan pun mempunyai rancangan dengan hidup kita masing-masing. Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk hari depan kita. Hanya saja kita belum mengetahui dan belum bisa memahami rancangan Tuhan atas diri kita.

Kalau ketiga pohon cemara itu bisa membaca buku Mazmur, mereka akan mengaku seperti kata pemazmur, "Betapa besar pekerjaan-pekerjaan-Mu, Ya TUHAN, dan sangat dalamnya rancangan-rancangan-Mu" (Mzm. 92:6).

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)


PANGGILAN TUHAN

PANGGILAN TUHAN

Kita menyebut mereka pekerja bangunan. Pekerjaan mereka ada Klah mengaduk semen, mengangkat batu, mendirikan tembok, memasang genting, dan sebagainya. Di Israel mereka disebut aneshe melakah. Tahukah Anda apa sebenarnya arti kata itu? Melakah sebe narnya berarti 'suruhan Allah'. Kata melakah akarnya sama dengan malak, yaitu 'pesuruh Allah'. Sebab itu, kata malaikat dalam bahasa Ibrani adalah malak. Bayangkan betapa tingginya sebutan itu. Para pekerja bangunan disebut pesuruh Allah.

Kata melakah itu banyak terdapat di dalam Kitab Tawarikh dan Nehemia. Memang yang dimaksud di situ adalah pekerja bangunan Bait Allah. Namun, di bagian-bagian lain dalam Alkitab, kata melakah itu juga digunakan untuk semua orang yang bekerja dan untuk semua jenis pekerjaan. Misalnya, kata melakah digunakan dalam Sepuluh Perintah, "Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh.. jangan melakukan sesuatu pekerjaan..." (baik versi Kel. 20 maupun Ul. 5 menggunakan kata melakah).

Kesimpulan apa yang dapat ditarik dari penggunaan kata melakah untuk pelbagai jenis pekerjaan itu? Kesimpulannya adalah bahwa segala jenis pekerjaan dinilai sebagai suruhan Tuhan Dengan demikian, Alkitab mencatat bahwa suruhan Tuhan bukan hanya terbatas pada pekerjaan imam dan Lewi di Bait Allah, melainkan juga pada segala macam pekerjaan lain seperti bertanı, beternak, berdagang, dan se bagainya.

Sikap para pengarang Alkitab itu sebenarnya melawan arus bu daya yang lazim Dalam budaya Mesir dan Yunani yang dominan pada zaman itu, pekerjaan yang bersifat rohani dianggap lebih luhur daripada pekerjaan jasmani. Tugas seorang imam di kuil dianggap se bagai suruhan ilahi, sedangkan tugas petani atau pekerja bangunan dianggap tidak ada hubungannya dengan para dewa, Akan tetapi para penulis Perjanjian Lama mengembangkan budaya kerja yang sebaliknya. Petani, peternak, pedagang dan pekerja bangunan pun disebut melakah atau pesuruh Allah. Dari situ lahir tradisi Yahudi yang mengagungkan semangat kerja keras dan ulet untuk melakukan pekerjaan apa pun juga.

Tradisi Kristen tentang kerja merupakan kelanjutan dari tradisi Ya hudi. Yohanes Calvin, Pembaru Gereja, menekankan bahwa tiap jenis pekerjaan adalah penetapan dan panggilan dari Allah. Dalam bukunya, Institutio Pengajaran Agama Kristen, ia menulis, "Tuhan menetapkan tugas-tugas bagi setiap orang menurut jalan hidupnya masing-masing Dan masing-masing jalan hidup itu dinamakan-Nya panggilan... Tidak ada pekerjaan apa pun betapapun kecil dan hinanya yang tidak akan bersinar-sinar dan dinilai berharga di mata Tuhan."

Pengakuan bahwa pekerjaan adalah panggilan dari Tuhan me ngandung beberapa implikasi. Calvin menulis, "Setiap orang diben oleh Tuhan jalan hidup sendiri-sendiri sebagai pos penjagaan", artinya Tuhan menempatkan kita pada suatu tanggung jawab tertentu. "Tidak ditinggalkannya tempat yang diperuntukkan baginya oleh Tuhan", artinya kita harus setia, berakar dan bertumbuh dalam pekerjaan itu. Calvin juga menulis, "Tanpa gerutu... masing-masing menanggung yang kurang enak, yang susah, yang sedih, yang membosankan, jika mereka yakın bahwa setiap orang diberi beban oleh Allah." Calvin juga menulis," tidak sembrono melampaui batas melebihi panggilan nya", artinya kita perlu tahu betul apa deskripsi dan definisi tugas kita. Selanjutnya, Calvin menghibur bahwa jika kita mengaku pekerjaan kita sebagai panggilan dan penugasan dari Tuhan, maka dari Tuhan juga kita bisa mengharapkan pimpinan dan kekuatan untuk pekerjaan itu, "Bagi setiap orang, kesusahan, kesulitan dan beban-beban berat lainnya akan lebih ringan bila diketahui bahwa Allah jadi pembimbing dalam semuanya ini."

Dengan ajaran ini, Calvin menegaskan bahwa apa pun pekerjaan seseorang, pekerjaan itu adalah panggilan dari Tuhan. Itu berarti bah wa bila kita menjadi montir, kita terpanggil untuk menjadi montir yang bertanggung jawab, bersungguh-sungguh, berdedikasi, bermutu, jujur dan setia, sebab kita mengaku bahwa dari Tuhan sendirilah ber asal penugasan ini.

Dengan demikian, Calvin menolak anggapan bahwa panggilan Tuhan hanya berlaku bagi pekerjaan rohani. Segala jenis pekerjaan, sejauh itu mendatangkan faedah bagi keberlangsungan hidup, meru pakan panggilan dari Tuhan. Bukan hanya masuk sekolah teologi dan menjadi pendeta yang memerlukan panggilan Tuhan, melainkan juga masuk sekolah teknik dan menjadi insinyur.

Pengakuan bahwa tiap jenis pekerjaan yang menopang kehidupan adalah panggilan Tuhan secara tidak langsung tersirat dalam beberapa bahasa. Dalam bahasa Inggris, pekerjaan disebut vocation yang akarnya berasal dari kata Latin vocatio/vocationem (= memanggil). Dalam bahasa Belanda, kata beroep (= pekerjaan) berasal dari kata roep (= memanggil). Begitu juga dalam bahsa Jerman, beruf (= pekerjaan) dan berufung (= penugasan) berasal dari kata ruf (= memanggil).

Sebab itu, sebenarnya adalah keliru untuk menyebut pendeta se bagai hamba Tuhan sebab semua orang percaya, apa pun pekerjaan nya, adalah hamba Tuhan. Kalau hanya pendeta disebut hamba Tuhan, lalu hamba siapakah para warga gereja yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, manajer, buruh, pedagang, dan sebagainya? Apakah mereka hamba Iblis? Gereja Abad Pertama tidak mengenal kelaziman. memakai sebutan hamba Tuhan hanya bagi orang tertentu. Semua orang yang bertobat dan percaya disebut hamba Tuhan (lihat Rm. 6:22).

Jadi, tanpa kecuali setiap orang mendapat panggilan Tuhan Yang penting, panggilan itu kita jalankan dengan taat dan gembira. Panggilan itu berbeda-beda, tetapi tiap panggilan itu mempunyai keluhuran dan kegunaannya masing-masing kepelbagaian panggilan bukanlah soal tinggi atau rendah, melain kan soal saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Masyarakat membutuhkan sopir taksi Namun, kalau semua orang menjadi sopir taksi, siapa penumpangnya? Lagi pula, lalu lintas langsung akan macet total. Sebaliknya, kalau semua orang hanya mau menjadi penumpang, siapa sopimnya? Nah, itu sebabnya saya menjadi pengarang dan Anda menjadi pembaca. Untung saja Anda merasa terpanggil menjadi pembaca, bukan menjadi pengarang. Apa jadinya kalau Anda semua "sama gilanya" seperti saya, yaitu "gila mengarang"? Gunung Mulia akan langsung bangkrut sebab siapa yang akan membeli buku Seri Selamat?

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)


ALLAH JADI TUKANG KEBUN

ALLAH JADI TUKANG KEBUN

Halaman-halaman pertama Alkitab sebenarnya mencengangkan. Orang yang pertama kali membaca Alkitab mulai dari halaman pertama akan tercengang melihat bagaimana caranya Allah digambar kan di situ. Semula orang mungkin mengira bahwa di dalam Alkitab Allah digambarkan sebagai seorang raja yang sedang duduk di singga sana berlapis emas dengan segala keagungan. Akan tetapi, ternyata halaman pertama Alkitab tidak memberi gambaran yang begitu tentang Allah. Kitab pertama dalam Alkitab bukan menggambarkan suasana dan konteks sebuah istana yang megah, melainkan suasana dan konteks sebuah kebun yang bersahaja. Allah bukan digambarkan sebagai seorang raja yang dikelilingi oleh para dayang, melainkan sebagai seorang tukang kebun yang berjalan seorang diri di kebun. Allah digambarkan sedang menyingsingkan lengan dan bekerja dengan tangan sendiri di suatu kebun.

Baiklah secara sepintas kita melihat halaman-halaman pertama itu. Di situ terdapat dua buah cerita tentang penciptaan, yang pertama di dalam Kejadian 1:1-2:4a dan yang kedua di dalam kejadian 2:4b-25. Kedua cerita itu, yang berasal dari dua kelompok pengarang yang berbeda zaman, mengandung beberapa perbedaan. Misalnya, dalam cerita pertama manusia diciptakan sebagai makhluk yang terakhir, padahal dalam cerita kedua manusia diciptakan sebagai makhluk yang mula-mula.

Akan tetapi, persamaannya juga banyak. Yang jelas kedua cerita itu menggambarkan Allah yang sibuk bekerja. Di situ beberapa kali digunakan kata bara, sebuah kata yang khas dipakai untuk Allah, yang berarti 'menciptakan sesuatu tanpa bahan. Berkali-kali ditulis, "Berfirmanlah Allah, jadilah", maka jadilah apa yang disebut Nya itu. Allah mengungkapkan apa yang dimaksud-Nya dengan sabda, lalu terciptalah sabda-Nya itu. Namun, pada lain pihak cerita ini juga memakai kata kerja asah (di 1:7, 16, 25, 26, 31. dan 2.2), sebuah kata umum yang berarti membuat dengan memakai bahan atau melalui proses pembuatan' Jadi, walaupun di cerita pertama ada kesan bahwa Allah hanya berfirman atau memerintah, sebenarnya di situ pun Allah menciptakan melalui cara atau proses mengerjakan dan mengolah.

Dalam cerita kedua, proses kerja Allah ditampakkan lebih ril bagaikan sebuah laporan kerja. Perhatikan kesibukan Allah melalui banyaknya kata kerja ini (semuanya diambil dari Kej, 2): "menjadikan bumi dan langit (ay 4), "belum menurunkan hujan" (ay. 5), "mem bentuk manusia dari debu tanah" (ay. 7), "menghembuskan nafas" (ay. 7), "membuat taman", (ay, 8), "ditempatkan-Nya manusia™ (ay 8). "menumbuhkan berbagai-bagai pohon" (ay. 9), "mengambil manusia dan menempatkannya" (ay. 15), "memberi perintah" (ay 16), "mem bentuk dari tanah" (ay. 19), "dibawa-Nyalah" (ay 19), "melihat" (ay. 19), "membuat manusia itu tidur" (ay, 21), "dibangun-Nyalah seorang perempuan (ay, 22), "dibawa-Nya kepada manusia" (ay 22).

Kalau cerita itu kita baca dengan menggunakan imajinasi, peker jaan Allah itu menjadi sebuah drama yang hidup. Allah berjalan di suatu kebun. Diperhatikan Nya segala sesuatu. Di suatu pojok la duduk Diambil Nya tanah hat. Jari-jari Nya membentuk sesuatu. Ber kali kali la menghaluskan bentukan tanah liat itu Dengan sangat telite dirampungkan Nya hasil bentukan Nya itu Lalu, Allah perlahan-lahan meniup tanah liat yang dibentuk Nya itu. Tiba tiba bergeraklah tanah liat itu menjadi makhluk hidup. Allah tersenyum. Dengan ramah ta menyapa, "Hai kamu dibuat dari adamah Namamu Adam" (tbranc adamah tanah) Lalu, Allah mengambil lagi segumpal tanah liat Dibentuk-Nya binatang Lalu binatang itu seekor demi seekor dielus dan dibelai Nya dengan penuh rasa sayang. Lalu Allah membersihkan tangan Nya dari sisa-sisa tanah liat yang masih melekat Setelah itu, Allah mengajak Adam dan binatang binatang itu berjalan. Mereka menyusuri empat anak sungai yang ada di situ. Kemudian, Allah membungkuk menggemburkan tanah la berjongkok menanam be berapa batang pohon, la menyiram pohon-pohon itu, Allah membuat sebuah taman yang indah Allah bercocok tanam. Tangan dan kaki-Nya kotor Allah asyik berkebun. Allah menjadi tukang kebun.

Itulah berita halaman pertama Alkitab: Allah adalah Allah yang mau berlelah dan bekerja. Allah adalah Allah yang aktif. Keaktifan Allah digambarkan terus sepanjang Alkitab. Puluhan macam kata kerja dipakai untuk menggambarkan apa yang diperbuat Allah bagi umat-Nya: membimbing, mengajar, menolong, membela, mendengarkan, memperhatikan, memberi, menegur, menghukum, mengampuni, menyuruh, menopang, mengutus, mengaruniakan, me nyelamatkan, menyertai, menunjukkan, mendidik, menebus, menun tun, melindungi, memegang, menaungi, memulihkan, menyinari, menguatkan, menyembuhkan, menghidupkan, menumbuhkan, menggendong, melayani, dan seterusnya.

Allah adalah Allah yang bekerja. la bekerja untuk kita. Mulai dari halaman pertama dalam Alkitab Allah sudah bekerja. Sampai halaman terakhir pun Allah terus bekerja. la bekerja melalui Roh dan firman Nya. la bekerja melalui Putra-Nya. Menarik untuk menyimak apa yang dicatat pada halaman terakhir Alkitab tentang pekerjaan Allah. Di situ dicatat bahwa Allah mem bangun sebuah kota (Why 21 dan 22). Allah mengawali pekerjaan. Nya dengan membuat sebuah kebun, dan la mengakhirinya dengan membuat sebuah kota. Dari kebun sampai kota, dari rural sampai residensial. Allah bekerja menyediakan lingkungan yang dapat meng hidupi dan dihidupi oleh makhluk-makhluk ciptaan-Nya, baik di hutan maupun di kota. Dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Allah terus bekerja. Allah terus berkarya.

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)