BUNUH DIRI VS BARUI DIRI

BUNUH DIRI VS BARUI DIRI

 

Selama menjadi pendeta GKI Samanhudi, jarang saya menghadapi kasus bunuh diri. Akan tetapi, jarang bukan berarti tidak pernah Bunuh diri terbagi atas beberapa jenis Dalam bahasan ini yang dilihat hanya tiga jenis, yaitu niat bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan perbuatan bunuh diri. Ketiga jenis itu bisa terjadi pada golongan usia mulai remaja sampai lanjut usia, rajin ke gereja maupun tidak, miskin dan kaya

Pada jenis niat, biasanya kasus diungkapkan sendiri oleh pelaku atau terdeteksi dalam percakapan Sebaliknya, pada jenis percobaan, kasusnya saya ketahui karena diberi tahu oleh keluarga. Sedangkan pada jenis perbuatan, kasusnya saya ketahui ketika pelaku sudah meninggal dunia. Semua kejadian itu tentu mencekam dan membuat saya merinding.

Pemicu bunuh diri ternyata sama sekali tidak bisa disederhanakan sebagai "putus asa" atau "kurang iman". Pemicunya sangat beragam dan rumit (lih "Bunuh Diri" di Selamat Sejahtera). Aspek pemicunya dalam tulisan ini dibatasi pada dua aspek.

Aspek sosial pedagogis. Dibesarkan dan berada dalam keluarga yang longgar ikatan, dingin dan jaga jarak terhadap satu sama lain, bahkan sesama saudara kandung pun saling bersaing Berada dalam keluarga yang menolak kita, misalnya keluarga merasa malu karena kita cacat. Atau, keluarga resah karena kita lajang sehingga keluarga mendesak-desak kita untuk mempunyai pacar Atau, keluarga menolak karena kita lesbian atau gay dan memaksa kita berubah jadi "normal" Faktor longgarnya ikatan sosial pun berpengaruh, misalnya jika kita enggan bergaul, enggan terhisab dalam komunitas, tidak punya teman dekat, tidak kenal tetangga, tidak akrab dengan anak dan menantu, dan sebagainya

Aspek psikologis pedagogis Kurang terlatih menanggung frustrasi sehingga mudah tergoncang ketika jalan hidup kita tidak mulus Serangkaian kegagalan, misalnya gagal ujian, gagal asmara, gagal. rumah tangga, gagal karier, dan sebagainya. Kurang terbiasa bertanggung jawab sehingga kita merasa tidak sanggup lagi saat menanggung beban tanggung jawab yang berat. Merasa ditinggalkan oleh semua orang sehingga dilanda rasa kesepian. Merasa din betul betul dihina dan dipermalukan, misalnya karena perkosaan. Merasa din tidak disukai dan tidak dipahami. Merasa diri ditelantarkan Merasa diri ditolak

Berbagai tekanan perasaan itu bisa memicu pikiran untuk bunuh. din. Kita seolah-olah menjerit, "Saya tidak tahan lagi!" Itulah jeritan Nabi Elia saat ia berniat bunuh diri. Jeritnya, "Saya tidak tahan lagi. TUHAN Ambillah nyawa saya..." (1Raj 19.4, BIMK).

Akan tetapi, tidak banyak orang yang bisa terus terang menjerit seperti Nabi Elia itu. Kebanyakan orang hanya memendam segala perasaannya. Gejala-gejala pemendaman itu banyak Murung berke panjangan Hilang minat. Sulit konsentrasi Patah semangat Lamban. Lesu. Susah tidur, atau sebaliknya tidur berkepanjangan Mudah tersinggung, Gampang marah. Hilang kreativitas Hilang produktivitas Mengasingkan diri. Tidak nafsu makan, atau sebaliknya makan ber lebihan. Enggan berbuat ini dan itu.

Tanda-tanda itu merupakan bagian dari gejala stres dan depresi (lih. "Stres" di Selamat Bergumul, dan "Depresi" di Selamat Berjuang). Ada kemungkinan gejala-gejala itu merupakan awal tanda niat bunuh diri.

Gejala-gejala seperti itu pada anggota keluarga atau teman merupakan alarm kepada kita untuk segera menawarkan pertolongan. Caranya bukan menasihati dan bukan menegur, melainkan mendekati Kita menciptakan suasana yang memungkinkan dia merasa aman berada dengan kita dan bisa memercayai kita. Ia sedang menanggung beban perasaan yang berat. la butuh seseorang yang mau mendengarkan persoalannya dan mau memahami penderitaannya. Mes kipun kita tidak memberi solusi, ia sudah mulai agak lega jika kita mau berempati dengan jalan mendengarkannya tanpa membenarkan atau mempersalahkan dia.

Jika pelaku niat bunuh diri itu bisa memercayai kita dan mau mencurahkan isi hatinya, maka besar kemungkinan terjadi keter hubungan emosi antara dia dan kita. Pelaku bunuh diri adalah orang yang merasa ditolak, dicibirkan, dan kurang disukai oleh lingkungannya. Oleh sebab itu, sikap kita yang mau merangkul akan sangat besar artinya bagi dia. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% dari kasus bunuh diri bisa dicegah berkat keterhubungan emosi dengan orang yang bisa dipercaya. Kita bisa turut membantu pencegahannya. Tang gal 10 September adalah Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia.

Akan tetapi, faktor pemicu bunuh diri bersifat tersembunyi. Oleh sebab itu, meskipun krisis sudah mereda, sebaiknya pelaku berkon sultasi pada seorang profesional yang terlatih seperti psikolog, psikiater, rohaniwan, atau lainnya.

Agak disayangkan bahwa banyak rohaniwan kurang dibekali pengetahuan menghadapi kasus seperti ini. Biasanya rohaniwan hanya melihat dari sudut iman. Akibatnya, ia hanya menasihati, "Bunuh diri itu dosa. Melanggar firman Allah." Bahkan ada rohaniwan yang memakai pendekatan intimidasi, "Orang bunuh diri masuk neraka."

Kurangnya pemahaman terhadap bunuh diri menyebabkan naknya angka bunuh diri. Di Indonesia tiap jam ada satu orang bunuh diri.

Banyak orang belum melihat bahwa bunuh diri merupakan per soalan sebab akibat. Mengapa pelaku merasa dirinya tidak berharga sehingga ia berniat bunuh diri? Mengapa ia membenci dirinya sehingga ia ingin membunuh dirinya itu? Mengapa ia merasa hidupnya memalukan sehingga ia nekat mengakhiri hidupnya?

Penyebabnya ada di tangan kita, yaitu keluarga, gereja, dan lingkungan pelaku. Kita malu punya anak seperti dia, sebab itu dia juga malu atas keberadaannya. Kita tidak menyukai saudara kita itu, sebab itu ia pun tidak menyukai dirinya.

Pemicu dasariah bunuh diri adalah karena pelaku menolak dirinya; dan ia menolak dirinya karena kita menolak dia.

Kata kuncinya adalah penerimaan versus penolakan. Kalau kita belajar menerima dia sebagaimana dia adanya, maka dia juga belajar menerima dirinya sebagaimana dia adanya. Sebaliknya, kalau kita menolak dia dengan mendesak dia untuk berubah menjadi seperti kita, maka dia pun akan menolak dirinya.

Banyak orang belum memahami prinsip sebab akibat itu. Misalnya, dalam ajaran banyak gereja orientasi seksual yang berbeda dianggap bertolak belakang dengan penciptaan Allah sehingga orang yang berbeda orientasi seksual itu tidak bisa diterima lalu diminta untuk bertobat menjadi sama seperti kita.

 Melihat banyaknya gereja yang belum memahami hal itu, PG| membuat "Pernyataan Pastoral tentang LGBT" sebagai bahan edukasi yang kental dengan prinsip-prinsip pedagogi. Tertulis, "Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah... Penolakan keluarga terhadap anggota keluarga mereka yang LGBT berpotensi diri sendiri (self rejection) yang berakibat pada makin meningkatnya ... menciptakan penolakan terhadap potensi bunuh diri di kalangan LGBT" (lih. "Lesbian dan Gay" di Selamat Berpadu).

Sebenarnya, kita yang tidak pernah punya niat bunuh diri pun pada suatu waktu mungkin cenderung menolak diri. Kita merasa diri kurang berharga. Kita kurang menyukai diri sendiri. Kita membenci diri kita sendiri.

Kecenderungan itu merupakan bagian dari proses pertumbuhan kepribadian, asalkan serempak kita juga belajar membarui diri sendiri dengan jalan belajar mencintai diri sendiri.

Mencintai diri adalah menerima diri kita sebagaimana adanya. Bangga pada keunggulan kita tanpa merasa sombong. Mengakui kelemahan kita tanpa merasa minder.

Dengan demikian, kita membarui diri kita sehari-hari. Belajar mencintai diri sendiri supaya bisa mencintai orang lain. Belajar mencintai orang lain supaya bisa mencintai Allah. Joseph Fletcher dalam Situation Ethics menulis, "For to love God and a neighbor is to love one's self in the right way; to love one's neighbor is to respond to God's love in the right way; to love one's self in the right way is to love God and one's neighbor."

Itulah maksud Yesus ketika ia mengajar, "Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu... Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri" (Mat. 22:37-39, BIMK).

Mencintai adalah menerima. Maksudnya, menerima sebagaimana adanya.