GAMPANG, BERIKAN MEREKA SUKSES!

GAMPANG, BERIKAN MEREKA SUKSES!

Pada suatu hari iblis mencari seseorang yang semula murah hati untuk dijadikan kikir, semula berserah untuk dijadikan serakah dan cepat marah. Iblis memilih seorang petani yang sedang bekerja di ladang. "Nah, petani miskin ini akan kujadikan lebih miskin lagi. Pasti dia akan jadi kikir dan serakah." 

Sebagai langkah pertama, Iblis mencuri bekal makanan milik petani itu. Pada waktu makan siang petani itu mencari-cari bekal makanannya. la merasa heran, "Aneh betul, makananku hilang. Aku akan lapar sepanjang hari ini. Mungkin ada tetangga yang mencurinya. Biarlah, barangkali tetanggaku itu sedang kesulitan makanan." Iblis heran melihat reaksi petani yang begitu ikhlas dan damai. Rencananya gagal. Dengan lesu ia melapor ke para Iblis lain. Mereka langsung menertawakan dia, "Tentu saja kau gagal. Kalau mau bikin orang jadi kikir dan serakah, jangan jadikan dia miskin. Jadikan dia kaya!"

Mulailah Iblis menyusun rencana jangka panjang. Ia memberi kesuburan khusus pada ladang petani itu. Ketika petani lain mengeluh akibat panen yang gagal, petani yang satu ini justru berlimpah panennya. Lumbungnya penuh dengan gandum. Petani miskin ini langsung menjadi kaya. Petani ini tidak tahu apa yang harus diperbuatnya dengan kelebihan gandumnya. Lalu Iblis memberi ilham. Gandum itu bisa dibuat minuman keras vodka. Ternyata vodka bikinan petani ini laku di kota. Petani ini menjadi semakin kaya.

Untuk merayakan suksesnya, petani ini mengundang para tetangganya berpesta. Vodka disajikan lalu orang mulai mabuk. Dalam keadaan mabuk, petani itu menagih tetangga-tetangganya untuk mengembalikan gandum yang mereka pinjam. Petani itu langsung marah ketika para tetangga belum sanggup membayar akibat masa paceklik. la memaki-maki, "Bayar! Awas kalau kamu tidak membayar. Itu gandumku tahu? Gandum hasil keringatku!" Lalu mereka pun mulai bertengkar. Kacaulah pesta itu.


Iblis mengintip dari jauh dengan senyum kemenangan. Sambil menunjuk ia berkata kepada Iblis-Iblis lain, "Lihat, itu dia orangnya. Dulu ketika masih miskin, bekal makanannya ia ikhlaskan. Tetapi, sekarang meski lumbungnya sudah luber, ia begitu kikir."

Apa maksud Leo Tolstoy menuturkan cerita ini? Kalau disimak alur cerita ini banyak mirip dengan cerita-cerita lain dari pengarang yang sama. Bandingkan misalnya dengan cerita Tolstoy tentang pembeli tanah yang serakah di buku Selamat Mengikut Dia. Leo Tolstoy (1828-1910) adalah seorang bangsawan dan tuan tanah yang kaya raya di Rusia. Tetapi ia tidak mau hidup sebagai orang kaya. Ia membagikan tanahnya kepada petani-petani miskin. Ia belajar teologi dan menjadi pengarang. Untuk kebutuhan hidupnya ia bercocok tanam dan membuat roti sendiri.

Tolstoy menekankan bahwa Kerajaan Surga ada dalam diri Yesus. Lalu apa yang tampak dalam diri Yesus? Seorang yang tidak terikat pada harta benda. Seorang yang terbebas dari keserakahan. Seorang yang tidak mengejar keberhasilan. Seorang yang bahagia. Yesus berkata, "Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah" (Luk. 6:20. Bandingkan dengan versi Mat. 5:3: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah...").

Tolstoy seakan-akan bertanya, "Kapan petani ini berbahagia?" la menjawab, "Sebelum petani ini menjadi kaya". Semula pikiran petani ini bebas dari belenggu harta benda. Hatinya damai. la tidak dikejar oleh keserakahan. Hubungannya dengan tetangga adalah hubungan manusia dengan manusia. Akan tetapi, kemudian pikirannya dikuasai oleh harta benda. Hatinya tidak damai lagi. Hubungannya dengan tetangga merosot menjadi hubungan antara pemilik benda dengan peminjam benda.

Dari luar tampaknya keluarga petani ini lebih beruntung. Namun, dari dalam keadaannya berbeda. Suasana keluarga yang semula tenang kemudian menjadi tegang. Hanya karena istrinya menumpahkan sedikit vodka, petani itu naik pitam bukan kepalang, "Bodoh! Kamu kira ini air hujan? Ini vodka. Ini mahal, tahu?" Ada lagi isu teologis yang hendak diangkat oleh Tolstoy. Benarkah sukses itu berkat dari Tuhan? Belum tentu. Sukses belum tentu berasal dari Tuhan sebab berkat Tuhan tidak selalu berbentuk sukses. Bisa jadi sukses diberikan oleh Iblis sebagai strategi untuk menjatuhkan kita.

Entah apa riwayat petani itu selanjutnya. Entah apa pula yang terjadi dengan Iblis ini. Bisa jadi Iblis ini kemudian menjadi penceramah seminar di hotel-hotel berbintang. Di situ ia memberi kiat kepada para Iblis lain tentang metode mengubah orang yang semula berserah menjadi orang yang serakah, yang semula murah hati menjadi kikir, semula jujur menjadi korup dan jahat. Di tiap seminar selalu ada peserta yang bertanya, "Apa kiatnya?" Lalu dengan senyum kemenangan ia menjawab, "Oh, Saudaraku yang terkasih. Itu gampang. Suruh mereka merindukan sukses. Ajak mereka berdoa minta sukses. Lalu berikan sukses."

Pdt. Andar Ismail

(Disadur dari buku Selamat Berkarya)